![]() |
| Pak Wahab, 60 Tahun meninggalkan keluarganya di Perantauan. |
Hampir tiap tahunya penduduk Bulukumba merantau mengais rejeki di Negeri orang, dengan maksud untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya, mereka rela meninggalkan kampung tanah kelahira, anak-anak, istri, dan sanak keluarganya hanya untuk mencari sesuap nasi. Banyak diantaranya kembali membawa uang yang cukup banyak dan membangun rumah, membeli tanah, dan berdagang, tapi banyak pula yang pulang dengan tangan kosong atau bahkan tidak kembali sama sekali. Apakah mereka meninggal dunia ataupun tinggal menetap karena tidak adanya biaya untuk kembali.
Pak Wahab yang saat ini tinggal di Riau, Bagan Siapiapi, meninggalkan istri yang saat itu mengandung anak pertamanya merantau untuk memperbaiki prekonomian keluarganya, Pada tahun 1960-an Wahab merantau meninggalkan Bumi panrita lopi bersama dengan orang-orang sekampungnya. Hampir 50 tahun lamanya dia pergi dan tidak pernah kembali.
Melalui jejaring sosial Facebook, Pak Wahab akhirnya dipertemukan, melalui Komunitas Sastra Bugis Kuno, kebetulan saya bertemu dengan Pak Doel yang tinggal di Riau menginformasikan bahwa ada tetangganya yang sudah tua, tinggal sendiri, mulai sakit-sakitan, dan ditinggalkan oleh anak-anaknya untuk dicarikan keluarganya yang ada di Bulukumba,
Pak Wahab yang mengenal tanah kelahiranya Tanah Beru dengan Tanah Bale’ menanyakan anak pertamanya yang saat itu masih di rahim ibunya sewaktu ditinggalkan. Saat itu saya mengbagikan Foto dan beberapa nama untuk dibagikan di Jejaring Sosial Facebook. Akan tetapi dalam waktu 3 hari tidak ada perkembangan.
Sabtu, 6 Desember 2013, saya berangkat ke tanah beru untuk mencari keluarga Pak Wahab, menurut informasi yang diberikan Pak Doel tetangga Pak Wahab kalau tempat tinggalnya ada di sekitar Pasar Tanah Beru, Dengan Nama Istri Napisah dan Kakak Labo dan Sangkala. Tiba di Tanah Beru, saya menanyakan tentang Pak Wahab disekitar Pasar tak banyak yang tau mengenai Pak Wahab, Kebetulan dipinggir jalan ada Orang Tua yang sedang bercengkrama dengan keluarganya, setelah ditanyakan ternyata mereka juga agak bingung setelah menjelaskan beberapa saat mereka masih bingung, tiba-tiba Seseorang yang mengaku keluarga jauhnya sedikit tau tentang Pak Wahab, Perempuan yang kira-kira berumur 60 tahun ini ingat kalu ada dulu tahun 60-an seseorang dengan nama Waha’ meninggalkan istrinya merantau dengan istri yang sedang mengandung anak pertama. Dengan informasi yang diberiakan kalau Keluarga Pak Wahab kini tinggal di sekitar pelelangan ikan Tanah beru.
Setiba di tempat Pelelangan ikan, saya menanyakan keluarga Pak Wahab, yakni Labo’ dan Sangkala. Mereka menunjukkan rumahnya. Dengan berbekal informasi tersebut saya kemudian ke Rumah yang ditinjjukan.
Rumah Panggung, dengan Lasuji’ di depan Rumah, bungan-bunga tumbuh dengan subur dan tertata rapi, Rumah panggung yang tidak terlalu tinggi itu terdengar musik dangdut khas pinggir laut. Sosok perempuan Rentah duduk di Lego’-lego’ Rumah panggung itu, saya kemudian menanyakan tentang Pak Wahab, Perempuan Rentah ini terlihat kebingunan, atau munkin menganggap saya sebagai tukang tipu yang saat ini ramai dibicarakan di Kampung-Kampung. Dia kemudian berlari kebelakang Rumah, beberapa saat kemudian datang Perempuan yang umurnya sekitar 40 tahun, saya menanyakan tentang Pak Wahab, dia terlihat bingung, dan menunjjukan sebuah Rumah. Tapi tiba-tiba ada perasaan menyakinkan kalau Rumah di depan mata saya itu adalah keluarga Pak Wahab. Saya kemudian menelpon Pak Doel tetangga Pak Wahab, sekitar 20 menit, Pak Doel menelpon kembali, tapi bukan Pak Doel yang berbicara, tapi Pak Wahab. Perempuan yang umurnya sekitar 40 tahun itu kemudian bicara dengan Pak Wahab, mereka pun berbicara lama, Perempuan itu tidak mengenal siapa Pak Wahab. Kemudian dia melihat saya dengan pandangan agak takut, munkin saya dianggap penipu, tapi saya kemudian menyebut nama Labo’ dan Sangkala, tiba-tiba dia mengaku kalau dia anak pertama Labo’ kakak Pak Wahab, dia pun berteriak dan memanggil saudara serta keluarganya, suasana menjadi ramai. Saya terherang-herang, ternyata mereka tidak pernah melihat Pak Wahab, bagaimana wajahnya, rambutnya. Setelah saya perlihatkan Foto Pak Wahab yang dikirimkan oleh Pak Doel dari Riau, mereka merasa sangat kenal karena sangat mirip dengan kedua kakanya yang telah meninggal dunia.
Pak Wahab yang meninggalkan Bulukumba sekitar 50 tahun itu sudah lamah sekali, menurut pengakuan keluarga. Pak Wahab sudah dianggap meninggal dunia, karena sudah puluhan tahun pergi dan tidak memberikan informasi baik itu sehelai surat. Labo, Sangkala kakak dari Pak Wahab ini beserta istrinya ternyata telah meninggal dunia. Dan anak pertamanaya yang saat ini berumur 40 tahun berada di Malaysia. Sedangkan yang ada di Tanah Beru hanya Anak-anak dari Istri Pak Wahab yang telah menikah dengan kakaknya (lecce’ angkulung), yakni Sangkala dan memiliki banyak anak yang telah menikah dan beranak cucu.
Menurut informasi yang saya dapat baru-baru ini dari Pak Doel Di Riau, Bagan Siapiapi, Pak Wahap masih ada di Riau, di Bagan Siapiapi, alamatnya di Jalan Pahlawan, No 135, Kelurahan Bagan Timur, Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir, Kota Bagan Siapiapi. Dan kesehatanya sudah menurun.
Semoga Pak Wahab dapat kembali ke Bumi Panrita Lopi dan mencium pipi anak cucunya. AMIN.
