PAGELARAN SENI DAN SASTRA BULUKUMBA; AKHIR TAHUN DI DALAM PUISI


.

Foto : Sekolah Sastra Bulukumba
Fenomena sosial bangsa yang kian kompleks sepertinya kian rumit dan sulit terurai. Media seakan tiada henti mengabarkan hal-hal yang ingkar moralitas dan semakin jauh dari hal yang berkenaan dengan keluhuran budi bahkan nilai agama. Adalah korupsi, moralitas pemimpin, kerusakan alam bahkan hingga pada isu-isu globalisasi yang menyeret generasi untuk menjauh dari akar kebudayaan seolah tak terbendung.

Sastra sebagai jalan kesadaran alternatif selain agama tentunya sangat diharapkan menjadi benteng alternatif lain dari benteng moralitas. Sastra sebagai sebuah harapan, dengan keindahan dan kelembutannya menghadirkan setitik cahaya sebagai awal dari kebangkitan bangsa atas degradasi moral yang akut. Titik-titik sastra dari hati setiap generasi muda diharapkan tak hanya menghadirkan romantika kata yang sudah terlalu sering kita dengar dari mulut muda ataupun  untuk menggoda sang kekasih, akan tetapi sastra sebagai senjata dalam melakukan revolusi pemikiran, budaya dan cipta.

Pesan sastra adalah pesan perjuangan. Seluruh lapisan masyarakat adalah titik focus dari bidik kata dengan katajaman yang abstrak penuh misteri. Setiap bagian dari sastra, apapun itu, adalah tumpuan bagi kaki-kaki kita untuk me-rekonstruksi peradaban yang bergeser oleh dorongan kekar tangan-tangan rakus.

Pertanyaan sederhana: “haruskan kita tercabut dan hilang bersama dengan kekalahan?”. Pertanyaan ini tentunya menarik untuk dipersembahkan ke seluruh lapisan masyarakat. Olehnyalah, dipandang penting untuk  melaksanakan kegiatan pagelaran sastra ini untuk memandangdengan tajam  semua soal dari mata puisi untuk mendorong katarsisme atau pun kontemplasi, untuk mecapai kebeningan mata jiwa di dalam menyikapi semua persoalan.




Your Reply