Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

SEMINAR NASIONAL, TEORI SOSIAL SASTRA " ANTARA SKANDAL REALITAS DAN RELASITAS" KARYA AHYAR ANWAR


.

Sumber : Profesi UNM
Terdengar ganjjal, itulah yang ada dalam otak saya disaat pertama kali mengikuti Seminar Nasional kali ini, biasanya seminar yang saya ikuti adalah seminar yang bertemakan kesehatan, jadi setiap kata dan kalimat yang diperbincangkan cukup saya mengerti dan pahami karena di ajarkan di bangku kuliah saya.

Seminar Nasional teori sosial sastra yang diadakan di Gedung Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM) di lantai lima, pada 15 Desember tang merupakan rangkaian dari Acara Mengenag 110 meninggalnya Dr Ahyar Anwar yang diadakan oleh Komunitas Rumah Cinta yang bertema “Antara Skandal Realitas dan Relasitas”  karya Dr. Ahyar Anwar ini menghadirkan empat pembicara diantaranya Prof. Aprinus Salam dosen Sekolah Pasca Sarjana, Kepala Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Ery Iswani, Dosen Universitas Negeri Makassar (UNM), Aslan Abidin, dan Irfan Palippui berlangsung dengan lancar,Acara yang dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan Drs. H Abdulllah Jabbar, M.Pd yang dihadiri dari berbagai Dosen Pasca Sarjana dan Mahasiswa yang ada di Kota Makassar ini membahas tentang Buku yang ditulis oleh Almarhum Dr. Ahyar Anwar “ Antara Skandal Realitas dan Relasitas “, selain itu juga mengenai permasalahan-permasalahan yang saat ini terjadi di kalangan Mahasiswa di Makassar. Dimana saat ini Mahasiswa cenderung Anarkis dalam setiap menyalurkan aspirasinya di jalan.

Prof. Aprinus  Salam dalam akhir pembahasanya menjelaskan Sosiologi sastra lebih sempit lingkunganya dibandingkan dengan teori sosial sastra, meskipun dalam dalam buku Dr Ahyar Anwar tidak mengungkapkan dengan lebih rinci perbedaan dan kemudian bagaimana hubungan keduanya, pada bagian awal dalam Buku Teori Sosial Sastra yang ditulis Dr Ahyar Anwar “Teori sosial sastra memiliki cakupan historis yang jauh lebih luas dibandingkan dengan teori sosiologi sastra”, Keterangan Dr Ahyar Anwar Ini menurut Prof. Aprinus Salam menjelaskan satu aspek perbedaan dari dua ilmu itu, yang pertama karena bersumber dan berkembang seiring dengan ilmu filsafat maka dapat dipastikan lebih tua secara historis, sementara sosiologi sastra merupakan ilmu yang masih sangat muda. Dan diakhir makalahnya Prof. Aprinus Salam menyarankan kepada murid-murid Dr Ahyar Anwar perlu mengeksplorasi lebih jauh perbedaan tersebut, mencermati dan mendudukkan keduanya dalam posisi yang pas.

Sedangkan Dr Ery Iswari dalam makalahnya Relasitas Komplementer dan resiprokar dalam budaya Makassar : Rerfleksi realitas berbasis Folktale (Cerita Rakyat). Mempresentasikan karya sastra dengan mengambil sunjek pada Laki-laki dan Perempuan dalam budaya Makassar. Dia juga mengutip salah satu penggalan kalimat dalam karya Dr Ahyar Anwar dalam Buku Kisah tak Berwajah (2009) :

" Aku hanya suka dengan kisah-kisah yang kau kirimkan pada angin di setiap malam yang menyusuri pantai, lalu menari di antara ombak,gelombang dan memecah samudera, dan singgah dari  antara pelabuhan demi pelabuhan. Tapi, setiap ombak menulis kisah pada pasir pantai, akan datang ombak lain untuk segera menghapusnya, agar ada kesempatan untuk kisah lain dituliskan ”.


Sementara Irfan Palippui, dalam pembahasanya cukup membingunkan bagi saya pribadi, tapi yang berhasil saya tangkap dalam sesih tanyajawab, dimana dari salam satu pertanyaan peserta mengenai fenomena Mahasiswa pada saat ini, dimana aksi anarkis pada saat menyalurkan aspirasinya dijalan cenderung anarkis, Irfan Palippui menganggap bahwa dalam menjalankan aksi menyalurkan aspirasi dijalan  mereka seperti Histeria, mereka menyakiti dirinya sendiri, mengalami keterasingan sementara dalam hidupnya, dan menemukan kenikmatan di dalamnya. Dan diakhir jawabanya dia melemparkan sebuah tanda tanya bagi saya yakni “Skandal akan tetap hidup dan dapat mempengaruhi hidup”. Terakhir Aslan Abidin, saya tidak begitu memperhatikan, karena kebetulan saya keluar ruangan untuk menghisap sebatang rokok.

Foto dalam Acara Seminar Nasional " Teori Sosial Sastra : Antara Skandal Realitas dan Relasitas" Karya Ahyar Anwar.

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

MALAM 110 HARI MENGENANG AHYAR ANWAR


.

Kadang-kadang batas yang jelas antara kehidupan dan kematian itu kabur, munkin orang telah meninggal dan pergi, tapi dia  tetap ada, berbicara, bahkan berjalan  dalam ingatan orang-orang yang mencintainya. Munkin itulah tampaknya yang terjadi pada Dr Ahyar Anwar.

Makassar, 15 Desember, bertempat Gedung Al Amin, Universitas Muhammadiah Makassar (UNISMU), Komunitas Rumah Cinta mengadakan Peringatan Hari 110 wafatnya Ahyar Anwar, kegiatan ini dihadiri berbagai pelakon kesenian yang hidup dan berjalan di sekitar Ahyar Anwar semasa hidupnya, dan mempersembahkan karya-karya sebagai wujud kecintaannya. Seperti  Abidin Wakur, Sanggar Seni dan Budaya Al Farabi yang berkelaborasi dengan putra Almarhum Ahyar Anwar, Putra Sulung Almarhun, Seniman Gowa Daeng Serang, Sanggar Seni Esa, Talas, Bestra, Sekolah Sastra Bulukumba, dan masih banyak lainya. 

Kegiatan yang disaksikan oleh ribuan orang ini sungguh memukau, saat masuk kegedung, Panitia menempatkan Histori dan kenangan Ahyar Anwar di Lorong-lorong gedung mulai dari buku karya-karyanya seperti Kisah tak berwajah, Menidurkan Cinta, Geneologi Feminis, Aforisma Cinta, Infinitum, dan masih banyak lainya, selain itu  dipajang Foto dan kegiatan Almarhum semasa hidupnya yang dimuat di berbagai koran.

Ahyar Anwar yang dijuluki Kahlil Gibran dari timur ini telah melahirkan jutaan untaian kata yang menidurkan cinta dipangkuan sang rindu, Sosok kharismatik ini menyelesaikan studinya di Universitas Gadjah Mada(UGM), Magister Sosiologi di Universitas Hasanuddin (UNHAS), dan memperoleh Doktor di bidang sastra di Universitas Gadja Mada (UGM), beliau juga menjadi Dosen di beberapa Perguruan Tinggi, diantaranya Universitas Negeri Makassar (UNM), Universitas Muhammadiyah Makassar (UNISMU), dan Universitas  Islam  Negeri Makassar (UIN). Aktif dalam berbagai seminar Nasional dan Internasional tentang sastra dan sosial, menilis artikel  pada jurnal Nasional dan berbagai media cetak.

Dibawah ini terdapat berbagai penggalan kata yang dikutip dari buku Dr Ahyar Anwar dalam Aforisma Cinta (2012).

“ Hakikat cahaya bukan bersarang pada matahari, Cahaya menyangkar pada lipatan hati, Hati yang indah selalu menyimpan  cinta jadi cahaya”

“ Waktu bukanlah soal malam atau siang, matahari bukan soal timur atau barat, musim bukan soal kemarau atau hujan, kesepian bukan soal sunyi atau hilang!. Semua itu soal apakah aku bersamamu atau tidak!”

“ Aku tidak sedang mencari cinta ketika aku menemukanmu, aku menemukanmu justru ketika aku sedang membuang semua kenanganku yang tak menyimpan cinta, Aku menemukan senyummu ketika aku sedang menyisihkan semua impianku tentang senyuman.”

“ Aku sedang berkatan dengan suara ketakutan yang terbunuh dalam selimut mimpinya yang tersaun sunyi jika malam ini berakhir, yakinlah jika gelapnya yang sunyi akan terus memelukku untukmu, sampai kau menemukanku dalam mimpimu yang paling rindu.”

Kegiatan ini selesai sekitar pukul 11:30 Am. Ditutup dengan peresmian Kominitas Rumah Cinta, sebagai wadah bagi mereka yang ingin membahas karya-karya Kahlil Gibran dari Timur ini dan mereka yang ingin meneruskan pemikiran beliau. Salam Budaya.

Foto-foto Dr Ahyar Anwar :

Salah satu persembahan Puisi dalam malam 110 hari  mengenang Ahyar Anwar

Daeng Serang, Seniman Tradisi dari Gowa, yang ikut mengisi malam 110 hari  mengenang Ahyar Anwar

Risma Iris, Istri Ahyar Anwar dalam acara malam 110 hari  mengenang Ahyar Anwar

Malam 110 hari  mengenang Ahyar Anwar




Festival Sungai Bijawang


.

Foto : Sanggar Seni dan Budaya Al Farabi Bulukumba
Dewasa ini, perhatian generasi muda terhadap Budaya sangatlah minim, Padahal di Negara lain, perhatian khusus terhadap Budaya sangatlah besar, mereka sangat giat dan gencar mempromosikan Budaya mereka dan biasanya menarik banyak wisatawan lokal maupun mancanegar, selain itu nilai dan makna akan suatu Budaya masing-masing daerah sangatlah baik untuk membentuk jati diri kita sendiri, orang lain, atau bahkan Bangsa dan Negara kita.

Bisa dihitung jari, Orang-orang yang giat untuk melestarikan dan mempertahankan warisan Para Leluhur kita ini. Di Bulukumba misalnya, terdapat banyak warisan Budaya yang perlu perhatian khusus generasi muda agar tidak tertelan oleh buaian zaman.

Pada tanggal 7 Desember 2013, Sanggar Seni dan Budaya Al Frabi Bulukumba dan Bangkeng Comunity Bulukumba menggelar Festival Sungai Bijawang, kegiatan yang menampilkan banyak Budaya yang saat ini mungkin telah terlupakan, seperti permainan rakyat Ma’Longga, Ma’ Ngasing, Ma’ Cukke, Tarik tambang dalam air, Pa Kacapi, Pa Gambusu, Pa Menca Baruga. Selain itu Sanggar seni dan Budaya Al Frabi juga Mempersembahkan Tari Tradisional Akkarane Biring Salo, Marillau Pammase Dewata, dan Ritual Mappano Ri wae, dan Ritual Tarian Eppa Sulapa yang sangat penuh dengan Mistik ditambah dengan alunan Ganderang Bulo dan Pui’ Pui’ yang melengking dalam desiran Air terjun Sungai Bijawang.

Salah satu pertunjukan yang sangat mendebar-debarkan adalah Ritual Tarian  Eppa Sulapa, Gerakan yang Lues dan gemulai seolah-olah menyatu dengan alam Sungai Bijawang ditambah dengan Aksi mistik membakar tangan dengan api membuat orang-orang yang menyaksikanya terpesona dan takjub akanya.

Mungkin nama-nama permainan dan ritual di atas saat ini agak terdengar asing ditelinga generasi muda saat ini. Ini merupakan bukti kurangnya minat para generasi muda untuk melestarikan Serpihan budaya dari sekian banyak yang terdapat di Kabupaten Bulukumba.

Kegiatan yang banyak menarik perhatian Warga sekitar desa dan para pengendara sepada motor ini merupakan kegiatan yang pertama kalinya diadakan di Pinggiran Sungai Bijawang. Mungkin kedepannya Pemerintah Kabupaten Bulukumba lebih memberikan perhatian kepada orang-orang yang giat dan tekun melestarikan warisan Budaya ini, agar kelak tidak lagi di akui oleh Negara Tetangga kita.


Latihan Sanggar Seni dan Budaya Al Farabi Bulukumba persiapan Festival Sungai Bijawang.
Foto : Sanggar Seni dan Budaya Al Farabi Bulukumba

Latihan Sanggar Seni dan Budaya Al Farabi Bulukumba persiapan Festival Sungai Bijawang.
Foto : Sanggar Seni dan Budaya Al Farabi Bulukumba

Latihan Sanggar Seni dan Budaya Al Farabi Bulukumba persiapan Festival Sungai Bijawang.
Foto : Sanggar Seni dan Budaya Al Farabi Bulukumba

MAKNA, PASANG RI KAJANG


.

Pasang Ri Kajang adalah ungkapan bahasa konjo, semacam bahasa daerah yang cenderung diidentifikasikan sebagai bahasa Proto-Makassar dan bahasa ini dipakai sebagai alat komunikasi oleh penduduk kecamatan  Kajang dan sekitarnya. Ungkapan itu sendiri terdiri dari tiga kata, masing-masing "Pasang", "Ri", dan "Kajang". Tiga kata ini mempunyai arti  tersendiri.

Pasang secara harfiah berarti pesan-pesan, wasiat, atau amanat. Dengan demikian ungkapan tersebut dapat pula berarti Message, seperti di kenal dalam bahasa inggris, dan searti pula dengan istilah Risalah yang dikenal dalam bahasa Arab. Sebab ungkapan tersebut Messege dan Risalah masing-masing berarti Pesanan, warta, amanat, atau wasiat.

Kata "Ri" itu sendiri merupakan kata perangkai yang menunjukkan  tempat, artinya "Di",Sedang kata kajang adalah nama sebuah kecamatan, seperti yang telah diterangkan terdahulu. Jadi secara harfiah, ungkapan Pasang Ri Kajang Berarti pesan-pesan di kajang.

( Sumber: DR. Mas Alim Katu. 2008. Kearifan Manusia Kajang. Pustaka Refleksi. Makassar)