Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

SEMINAR NASIONAL, TEORI SOSIAL SASTRA " ANTARA SKANDAL REALITAS DAN RELASITAS" KARYA AHYAR ANWAR


.

Sumber : Profesi UNM
Terdengar ganjjal, itulah yang ada dalam otak saya disaat pertama kali mengikuti Seminar Nasional kali ini, biasanya seminar yang saya ikuti adalah seminar yang bertemakan kesehatan, jadi setiap kata dan kalimat yang diperbincangkan cukup saya mengerti dan pahami karena di ajarkan di bangku kuliah saya.

Seminar Nasional teori sosial sastra yang diadakan di Gedung Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM) di lantai lima, pada 15 Desember tang merupakan rangkaian dari Acara Mengenag 110 meninggalnya Dr Ahyar Anwar yang diadakan oleh Komunitas Rumah Cinta yang bertema “Antara Skandal Realitas dan Relasitas”  karya Dr. Ahyar Anwar ini menghadirkan empat pembicara diantaranya Prof. Aprinus Salam dosen Sekolah Pasca Sarjana, Kepala Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Ery Iswani, Dosen Universitas Negeri Makassar (UNM), Aslan Abidin, dan Irfan Palippui berlangsung dengan lancar,Acara yang dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan Drs. H Abdulllah Jabbar, M.Pd yang dihadiri dari berbagai Dosen Pasca Sarjana dan Mahasiswa yang ada di Kota Makassar ini membahas tentang Buku yang ditulis oleh Almarhum Dr. Ahyar Anwar “ Antara Skandal Realitas dan Relasitas “, selain itu juga mengenai permasalahan-permasalahan yang saat ini terjadi di kalangan Mahasiswa di Makassar. Dimana saat ini Mahasiswa cenderung Anarkis dalam setiap menyalurkan aspirasinya di jalan.

Prof. Aprinus  Salam dalam akhir pembahasanya menjelaskan Sosiologi sastra lebih sempit lingkunganya dibandingkan dengan teori sosial sastra, meskipun dalam dalam buku Dr Ahyar Anwar tidak mengungkapkan dengan lebih rinci perbedaan dan kemudian bagaimana hubungan keduanya, pada bagian awal dalam Buku Teori Sosial Sastra yang ditulis Dr Ahyar Anwar “Teori sosial sastra memiliki cakupan historis yang jauh lebih luas dibandingkan dengan teori sosiologi sastra”, Keterangan Dr Ahyar Anwar Ini menurut Prof. Aprinus Salam menjelaskan satu aspek perbedaan dari dua ilmu itu, yang pertama karena bersumber dan berkembang seiring dengan ilmu filsafat maka dapat dipastikan lebih tua secara historis, sementara sosiologi sastra merupakan ilmu yang masih sangat muda. Dan diakhir makalahnya Prof. Aprinus Salam menyarankan kepada murid-murid Dr Ahyar Anwar perlu mengeksplorasi lebih jauh perbedaan tersebut, mencermati dan mendudukkan keduanya dalam posisi yang pas.

Sedangkan Dr Ery Iswari dalam makalahnya Relasitas Komplementer dan resiprokar dalam budaya Makassar : Rerfleksi realitas berbasis Folktale (Cerita Rakyat). Mempresentasikan karya sastra dengan mengambil sunjek pada Laki-laki dan Perempuan dalam budaya Makassar. Dia juga mengutip salah satu penggalan kalimat dalam karya Dr Ahyar Anwar dalam Buku Kisah tak Berwajah (2009) :

" Aku hanya suka dengan kisah-kisah yang kau kirimkan pada angin di setiap malam yang menyusuri pantai, lalu menari di antara ombak,gelombang dan memecah samudera, dan singgah dari  antara pelabuhan demi pelabuhan. Tapi, setiap ombak menulis kisah pada pasir pantai, akan datang ombak lain untuk segera menghapusnya, agar ada kesempatan untuk kisah lain dituliskan ”.


Sementara Irfan Palippui, dalam pembahasanya cukup membingunkan bagi saya pribadi, tapi yang berhasil saya tangkap dalam sesih tanyajawab, dimana dari salam satu pertanyaan peserta mengenai fenomena Mahasiswa pada saat ini, dimana aksi anarkis pada saat menyalurkan aspirasinya dijalan cenderung anarkis, Irfan Palippui menganggap bahwa dalam menjalankan aksi menyalurkan aspirasi dijalan  mereka seperti Histeria, mereka menyakiti dirinya sendiri, mengalami keterasingan sementara dalam hidupnya, dan menemukan kenikmatan di dalamnya. Dan diakhir jawabanya dia melemparkan sebuah tanda tanya bagi saya yakni “Skandal akan tetap hidup dan dapat mempengaruhi hidup”. Terakhir Aslan Abidin, saya tidak begitu memperhatikan, karena kebetulan saya keluar ruangan untuk menghisap sebatang rokok.

Foto dalam Acara Seminar Nasional " Teori Sosial Sastra : Antara Skandal Realitas dan Relasitas" Karya Ahyar Anwar.

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

MALAM 110 HARI MENGENANG AHYAR ANWAR


.

Kadang-kadang batas yang jelas antara kehidupan dan kematian itu kabur, munkin orang telah meninggal dan pergi, tapi dia  tetap ada, berbicara, bahkan berjalan  dalam ingatan orang-orang yang mencintainya. Munkin itulah tampaknya yang terjadi pada Dr Ahyar Anwar.

Makassar, 15 Desember, bertempat Gedung Al Amin, Universitas Muhammadiah Makassar (UNISMU), Komunitas Rumah Cinta mengadakan Peringatan Hari 110 wafatnya Ahyar Anwar, kegiatan ini dihadiri berbagai pelakon kesenian yang hidup dan berjalan di sekitar Ahyar Anwar semasa hidupnya, dan mempersembahkan karya-karya sebagai wujud kecintaannya. Seperti  Abidin Wakur, Sanggar Seni dan Budaya Al Farabi yang berkelaborasi dengan putra Almarhum Ahyar Anwar, Putra Sulung Almarhun, Seniman Gowa Daeng Serang, Sanggar Seni Esa, Talas, Bestra, Sekolah Sastra Bulukumba, dan masih banyak lainya. 

Kegiatan yang disaksikan oleh ribuan orang ini sungguh memukau, saat masuk kegedung, Panitia menempatkan Histori dan kenangan Ahyar Anwar di Lorong-lorong gedung mulai dari buku karya-karyanya seperti Kisah tak berwajah, Menidurkan Cinta, Geneologi Feminis, Aforisma Cinta, Infinitum, dan masih banyak lainya, selain itu  dipajang Foto dan kegiatan Almarhum semasa hidupnya yang dimuat di berbagai koran.

Ahyar Anwar yang dijuluki Kahlil Gibran dari timur ini telah melahirkan jutaan untaian kata yang menidurkan cinta dipangkuan sang rindu, Sosok kharismatik ini menyelesaikan studinya di Universitas Gadjah Mada(UGM), Magister Sosiologi di Universitas Hasanuddin (UNHAS), dan memperoleh Doktor di bidang sastra di Universitas Gadja Mada (UGM), beliau juga menjadi Dosen di beberapa Perguruan Tinggi, diantaranya Universitas Negeri Makassar (UNM), Universitas Muhammadiyah Makassar (UNISMU), dan Universitas  Islam  Negeri Makassar (UIN). Aktif dalam berbagai seminar Nasional dan Internasional tentang sastra dan sosial, menilis artikel  pada jurnal Nasional dan berbagai media cetak.

Dibawah ini terdapat berbagai penggalan kata yang dikutip dari buku Dr Ahyar Anwar dalam Aforisma Cinta (2012).

“ Hakikat cahaya bukan bersarang pada matahari, Cahaya menyangkar pada lipatan hati, Hati yang indah selalu menyimpan  cinta jadi cahaya”

“ Waktu bukanlah soal malam atau siang, matahari bukan soal timur atau barat, musim bukan soal kemarau atau hujan, kesepian bukan soal sunyi atau hilang!. Semua itu soal apakah aku bersamamu atau tidak!”

“ Aku tidak sedang mencari cinta ketika aku menemukanmu, aku menemukanmu justru ketika aku sedang membuang semua kenanganku yang tak menyimpan cinta, Aku menemukan senyummu ketika aku sedang menyisihkan semua impianku tentang senyuman.”

“ Aku sedang berkatan dengan suara ketakutan yang terbunuh dalam selimut mimpinya yang tersaun sunyi jika malam ini berakhir, yakinlah jika gelapnya yang sunyi akan terus memelukku untukmu, sampai kau menemukanku dalam mimpimu yang paling rindu.”

Kegiatan ini selesai sekitar pukul 11:30 Am. Ditutup dengan peresmian Kominitas Rumah Cinta, sebagai wadah bagi mereka yang ingin membahas karya-karya Kahlil Gibran dari Timur ini dan mereka yang ingin meneruskan pemikiran beliau. Salam Budaya.

Foto-foto Dr Ahyar Anwar :

Salah satu persembahan Puisi dalam malam 110 hari  mengenang Ahyar Anwar

Daeng Serang, Seniman Tradisi dari Gowa, yang ikut mengisi malam 110 hari  mengenang Ahyar Anwar

Risma Iris, Istri Ahyar Anwar dalam acara malam 110 hari  mengenang Ahyar Anwar

Malam 110 hari  mengenang Ahyar Anwar




PAGELARAN SENI DAN SASTRA BULUKUMBA; AKHIR TAHUN DI DALAM PUISI


.

Foto : Sekolah Sastra Bulukumba
Fenomena sosial bangsa yang kian kompleks sepertinya kian rumit dan sulit terurai. Media seakan tiada henti mengabarkan hal-hal yang ingkar moralitas dan semakin jauh dari hal yang berkenaan dengan keluhuran budi bahkan nilai agama. Adalah korupsi, moralitas pemimpin, kerusakan alam bahkan hingga pada isu-isu globalisasi yang menyeret generasi untuk menjauh dari akar kebudayaan seolah tak terbendung.

Sastra sebagai jalan kesadaran alternatif selain agama tentunya sangat diharapkan menjadi benteng alternatif lain dari benteng moralitas. Sastra sebagai sebuah harapan, dengan keindahan dan kelembutannya menghadirkan setitik cahaya sebagai awal dari kebangkitan bangsa atas degradasi moral yang akut. Titik-titik sastra dari hati setiap generasi muda diharapkan tak hanya menghadirkan romantika kata yang sudah terlalu sering kita dengar dari mulut muda ataupun  untuk menggoda sang kekasih, akan tetapi sastra sebagai senjata dalam melakukan revolusi pemikiran, budaya dan cipta.

Pesan sastra adalah pesan perjuangan. Seluruh lapisan masyarakat adalah titik focus dari bidik kata dengan katajaman yang abstrak penuh misteri. Setiap bagian dari sastra, apapun itu, adalah tumpuan bagi kaki-kaki kita untuk me-rekonstruksi peradaban yang bergeser oleh dorongan kekar tangan-tangan rakus.

Pertanyaan sederhana: “haruskan kita tercabut dan hilang bersama dengan kekalahan?”. Pertanyaan ini tentunya menarik untuk dipersembahkan ke seluruh lapisan masyarakat. Olehnyalah, dipandang penting untuk  melaksanakan kegiatan pagelaran sastra ini untuk memandangdengan tajam  semua soal dari mata puisi untuk mendorong katarsisme atau pun kontemplasi, untuk mecapai kebeningan mata jiwa di dalam menyikapi semua persoalan.




SENANDUNG RINDU


.

Diseberang jalan
Dekat sekolah
Nampak wajah merah meronah
Hati berdetak tak karuan
Kini dua jiwa menunggu dipersatukan
Ditemani lembutnya angin malam
Dalam peraduan malam tanpa duanya
Jalan gelap jadi saksi
Pohon-pohon dipinggir jalan mengiyakan
Sebuah buku jadi maharnya
Kau menjelma bagai bidadari
Turun dari surga untukku
Kini jiwa tersiksa
Bila mataku tak memandang matamu
Bertemu dengan dirimu
Hatiku semakin rindu
Dan tak mampu ku sembuyikan lagi
Perasaan ini semakin membara
Hujan kerinduan kepadamu
Menghapus luka yang dalam
Kini hatiku bagai rembulan
Rembulan yang rundu akan datangnya malam
Ku ingin lupakan harapan bersamamu
Namun cinta suci telah terukir
Terukir pilu dalam prasasti jiwaku
Kini dalam lembah kerinduan
Tinggal kulantunkan lagu sendu
Mengenang dirimu
Dirimu yang lelap tertidur
dalam dekapan dinding pembatas
dunia akhirat.

Untuk terkasi jauh disana

Katangka, 1 september 2013

NOSTALGIA BERSAMAMU


.

Terlanjur…
Terlanjur terjadi
Keegoisan jiwa yang membara kecemburuan
Membakar kata cinta dibibirku
Meneriakkan kata perpisahan
Didalam buku harianku
Namamu terlukis indah
Senyunmu ang manis
Tingkahmu yang manja
Candamu yang lucu
Tinggal tersimpang dalam jiwa yang larah
Saat kita jalan berdua
Rumput-rumput bersua melantunkan
Lagu kasmaran
Oh indanya
Kisah-kisah berdua
Nostalgia yang indah
Dalam dekapan malam
Kini kerinduanku kugantungkan pada rembulan
Berharap bintang-bintang menyampaikan
Rinduku ini
Rindu yang Kini terikat dalam bayangmu
Untuk terkasih

Katangka, 1 september 2013

MANALAH MUNKIN


.

Lantunan serangga…
Dinginya malam menusuk kalbu
Dipenghujum mata Nampak kegelapan malam
Bercampur rasa kegelisahan
Seharusnya aku sadari
Penyesalan yang terdalam
Kutenggelamkan dalam samudera air mata
Menunggu ombak menyampaikan
Kegelisahan kekarang-karang pantai
Lembaran-lembaran baru
Ingin kulukiskan nama baru
Saat malam menyimpulkan senyumanmu
Hatiku terjerat dalam sangkar
Kuharap kudapat melupakan dirimu
Menghapus cerita-cirita indah bersamamu
Jemarikku kaku
Memahatkan rasa sayang
memutuskan tali cinta engkau dan dia
kuharap engkau melupakan dirinya
hapuslah…hapus
hapuslah wahai sang angin
angin kerinduan
jiwa yang terdalam
dirimu dan diriku
kalu munkin lukisan wajahmu meneteskan air mata
kabut gunung menutup hatimu
kisimpang derita yang kualami
menyelami kehidupan
yang penuh kerinduan
manalah mungkin aku membohongi hatiku
mengbohongi rasaku
kini ragaku
mengelana diperaduan cinta
mencari…
dirimu dalam kaca…

Untuk terkasih

Katangka, 1 september 2013

NYAYIAN AKAR RUMPUT


.

Api rindu kini kini membara
Memadamkan kisah romeo dan Juliet
Menghempaskan rindu napoleon kepada istrinnya
Rindu…rindu
Kisah batara guru  dipertemukan we nyili timo
Di ale kawa
Api rindu kini membara
Membakar keheningan malam
Dari tarian akar rumput
Yang menari-nari
Menunggu tetesan embun pagi
Dan sirna diterpa cercaan matahari
Bagai lingkarang hidup
Ada siang ada malam
Ada pasang ada surut
Ada cinta ada duka
Ada hidup maka ada pula mati…

Untuk yang terlupakan

Katangka, 2 Agustus 2013

CINTA DAN KHAYALAN


.

Terpersik rindu dalam gemercik angin
Terhembas, terbayang, dalam dekapan waktu
Menunggu datangnya sang mentari
Menghangatkan jiwa dipelukanmu
Aku rindu…
Rindu tanpa batas
Dikelopak bunga adelwais gunung lompo battang
Yang tak pernah layu menunggu sentuhanmu
Rindu…
Aku rindu…
Rindu lebah akan manisnya nektar bunga
Melepaskan dahaga
Dari lubuk terdalam
Wewangian bunga-bunga diujung pelangi
Rindu…
Aku rindu…
Dalam mimpi aku khayalkan
Akan pertemuan adam dan hawa
Mejelajah dunia bawah sadar
Bagai danau fatamorgana
Diperut gurun sahara
Kering…Rindu
Belaian embun pagi
Menetes
Melahirkan danau abadai
Dikesendirian malam
Rindu…
Aku rindu…
Aku rindu dipertemukan
Bagai siang tak lelah menunggu datangnya malam…
Untuk sahat dalam khayalan

Bulukumba, 3 september 2013

REMBULAN TERSIPU MALU


.

Rembulan tersipu malu
Selimut gelap terbentang luas
Dua titik cahaya
Memandang, tersenyum malu
Membagikan kehangatan siang
Diantara dua titik cahaya
Dilangit dan dibumi
Tersenyum malu
Tiada kata

Tampak gurata waktu
Terpancar dari pipi merona
Menunggu dipertemukan penguasa malam.
Rembulan tersipu malu…

Nampak di mata dua titik cahaya
Sama indah
Dilangit dan dibumi
Dua ciptaan tuhan
Satu rupa, satu jiwa, satu hati.
Bagai rembulan dan bintang
Tak terpisahkan malam
Dalam dekapan waktu.
Rembulan tersipu malu…

Katangka, 22 Agustus 2013

MENUJU


.

Bangunlah…
Bangunlah wahai sahabatku
Angkat wajahmu, pandanglah pintu surga
Yang menantikan engkau selama ini.

Basulah mukamu dengan wudhu…
Takbirkan perubahan…
Layangkanlah do’a akan kesungguhnmu
Menggongcangkan bumi seisinya

Rukuk lah sahabatku…
Rukuklah atas kebenaran
Dan tendanglah kesewenang-wenangan
Yang berenang di air mata ibu pertiwimu

Sujudlah lah sahabatku…
Sujudlah atas karunianya.
Atas karunianya yang menanamkan pohon kesejahteraan
Dipundak anak cucumu…

Ucapkanlah salam sahabatku…
Atas keberanian sahatmu yang lain
Yang meneteskan darah terakhirnya
Untuk samudera  susu yang menunggu diselami


Bulukumba, 30 Juli 2013

MALAIKAT TANPA SAYAP


.

Ahhh…
Malam ini semakin dingin…
Tubuhku berteriak kedinginan
Tanda malam sukses menunaikan kewajibanya

Malam ini aku belum melihat…
Melihat… akan kedatangan sosok sahabat.
Sahabat  malaikat yang membawakan pena
Pena yang membawa goresan perubahan
Dari kepalsuan yang aku dapatkan

Kali ini,  Bukan malaikat yang bersayap
Tapi…
malaikat yang bertanduk
Kejam, keji, dan seram…
Kekejamanya akan memotong, merobek perutnya yang buncit…
Kekejianya akan membakar, lalu menghisap otaknya yang penuh ambisi
Dan wajahnya yang  seram  akan menghantui tidurnya yang lelab, kekenyangan
Yah…h…h… indah sekali…

Jika…malaikat itu tuntas melaksanakan do’aku…
Akan kuberi sebatang rokok…
Kuhisap berdua…
Dan saling tukar rencana, cita-cita, dan harapan…
Rokok itu akan kujadikan tanda persahabatan untuk membakar gubuk dan menyulapnya….
Abra…kadabra…jadi gedung
yah…h…h… asyik sekali…
senang rasanya…

Aku yakin, ambisiku ini akan sukses…
Sukses sekali…
Setelah itu…aku akan melayangkan proposal ke tuhan…
Akan kubangun surga di tanah yang subur ini…
Dan berjalan melewati hari penuh dengan kebahagiaan
hari-hari yang indah sekedar ucapan itu akan sirnah.
teriakan yang meradang itu semakin hilang berlahang

ahh…h…h…
akankah aku berjalan menuju langit
padahal dilangit tidak ada apa-apa, tidak ditemukan apa-apa
kecuali kekosongan yang nihil.
Oh…h…h…sahabatku…
Entah kapan engkau datang…


Bulukumba, 30 Juli 2013

IBU...HUJANKAH ESOK...?


.

Oh…ibu
Aku bertanya kepada ayah…
Masihkah tetangga ku lihat hari esok
Oh ibu
Aku bertanya kepada paman
Masihkah adik kecil diseberang rumah masih minum susu
Oh ibu
Aku bertanya kepada nenek
Masihkah kita makan esok pagi
Kini…
Tubuhmu ibu dipenuhi panu-panu yang tersenyum
Menempel tanpa malu. Malu akan dirinya
Oh ibu
Susumu tak semanis dulu
Susumu kini hambar
Munkin karena panu yang menempel pada tubuhmu
Panu tanpa akar yang tak setanggu dulu


Katangka, 21 Agustus 2013

GARUDAKU KINI JINAK


.

Kini ia tinggal mengicau
Cakarnya tumpul
Bulu-bulunya rontok
Paruhnya retak-retak
Matanya tak setajam dulu
Terban pun tak sanggup

Kini ia seonggok daging dalam sangkar
Namanya pun tak setangguh dulu
Badik kehilangan pamornya
Tinggal hiasan untuk dopertontongkan
Jiwa to barani kini tak sadarkan diri
Tertidur pulas menungguh suapan nasi
Mabuk dalam buaiyan zaman
Terbelenggu indahnya demokrasi
Lupa tangisan bocah-bocah diseberang jalan

Kemarin sore ia dipertontongkan
Meliak liuk dalam etalase sangkar kehidupan
Menunggu suapan daging
Dari periuk tetangga seberang
Garudaku kini jinak
Menutup mata tangisan malam

Di timur matahari terbit tersipu malu
Sinarnya pun tak hangat lagi
Di barat matahari tenggelam
Mewariskan kedinginan malam
Dari selimut compang camping

Garudaku kini jinak…!
Tersenyum malu dinegara seberang.     

Katangka, 22 agustus 2013

DAUN JATUH


.

Bangunlah… bangunlah sahabatku
Sahabat senasibku,
Lihatlah… lihatlah sahabatku
Dunia ini bosan engkau hinggapi

Daun jatuh…
Jatu satu demi Satu, Meninggalkan cinta ibunya
Ia tidak bersedih sahabatku.
Ia tidak bersedih… kerena Ia sadar akan kodratnya.

Ia melambai-lambai, memejamkan stomatanya
Yang selama ini memberikanmu kehidupan
Kini… ia jatuh. Melayang, terombang-ambing
Dalam pelukan semilir angin

Perhatikan sahabatku. perhatikan…
Lambaianya ikhlas
Wajahnya berseri-seri

Hari-hari nan indah ia lalui
Menari bersama ribuan sodaranya
Bercanda tawa
Membagikan kebahagiaan dalam kehidupanmu

Ia berpesan…
Kelak… engkau senasib denganya
Akan menghilang… hilang.
Tanpa bekas, meninggalkan kesuburan
Untuk anak cucumu.


( Bulukumba, 30 juli 2013 )

APPOLENGE'NNA


.

Diatas papan peraduan malam sunyi
Berbiaskan makam-makam tua
Nama-nama kecil yang enggang terlukiskan
Dalam ingatan waktu
Terdengar tawa-tawa tomanurung ri boting langi
Mendengdangkan musik penghibur larah
Dari instrument darah to barani
Diperaduan dewata malebbie
Tertidurkan mantera-mantera bissu’
Dua api kecil
Melahirkan jiwa ketiga


Katangka, 27 agustus 2013

SENANDUNG HARU KAMPUNG HALAMAN


.

Kampungku kini tersenyum
kebun-kebun ringbung
sungai-sungai jernih mengalir
sawah-sawah berjejer
bertingkat-tingkat dari bukit dekat kebun pak lurah sampai bendungan
kini musim tanam tibah
langit  cerah, awan-awan berceloteh penuh canda tawa
embun-embun pagi menetes penuh haru’
dari kejauhan, Nampak pak lurah dan para pak tani berbondong-bondong
berjalan liuk liuk diatas pematang sawah
bergotong royong menanam padi di sawah
hari itu, giliran sawah pak lurah ditanami padi,
esok… sawah pak tani dekat jembatang, setelah itu sawah pak tani dekat bendungan.
Matahari kini meranjak tinggi.
Dari kejauham atas bukit,
Ibu lurah terlihat menenteng termus berisih kopi,
Anak pak lurah, tampak ayu menjungjung bakul nasi.
burung beterbangan bebas, sapi-sapi mengoek merdeka
kampungku asri, tentram dan damai
16 tahun yang lalu…kini
Tinggal mewariskan khayalan dipenghujum mata…

Katangka, 21 Agustus 2013



SISI PINGGIRAN


.

Dengarlah…
Dengarlah saudaraku
Dengarlah rintihan itu
Rintihan akan uluran tanganmu

Mereka tidak butuh uangmu
Tidak butuh tumpukan baju bekasmu
Tidak pulah sisa makanan di gudangmu
Mereka butuh ilmumu

Dengarlah saudaraku… Saudara perjuanganku
Bukalah lemari mu, pandanglah kertas yang bertuliskan ijasah
Kertas yang engkau perjuangkan separu hidupmu
Dengan semangat yang membaramu

Coba engkau ingat…
Berapa buah pasang sepatu yang sobek dikakumu
Berapa pasang baju lusuh di tubuhmu
Setumpuk buku yang dilumat pena oleh tanganmu

Otakmu yang penuh akan cita-cita perubahan
Yang engkau isi pelajaran tentang dunia akhirat
Dan hati yang tergoreskan tinta kemuliahan
Akan hidup saudaramu yang lebih baik…

Dengarlah… dengarlah sahabatku
Akankah engkau simpang rapat Didalam pikiranmu yang berderuh
Berderuh ingin dibebaskan
Dan menyirami Negara ini dengan kecerdasmu yang engkau tempa selama ini

Tanggalkan baju honormu…
Yang memberikan sepeser uang
Dan kenakan ilmu yang kau dapat selama ini
ajarkan cara bertahan hidup di rimbah yang penuh pohon baja

mana kaum intelektual yang dulu itu…
yang berteriak di jalan akan perubahan
apakah engkau orang-orang intelektual
berotak dengkul itu…

bangunlah saudaraku
bangunlah dari pembodohan
pembodohan yang mengatas namakan perubahan
yang memerah otakmu yang penuh impian akan perubahan

jangan takut saudaraku
jangan takut…
pasang semangat yang membara
dalam jiwa yang berdebuh itu…

dengarlah saudaraku…dengarlah
mereka semakin merintih,
mereka membutuhkanmu
merindukan semangatmu yang dulu

Bulukumba, 23 Agustus 2013