Dengarlah…
Dengarlah saudaraku
Dengarlah rintihan itu
Rintihan akan uluran tanganmu
Mereka tidak butuh uangmu
Tidak butuh tumpukan baju bekasmu
Tidak pulah sisa makanan di gudangmu
Mereka butuh ilmumu
Dengarlah saudaraku… Saudara perjuanganku
Bukalah lemari mu, pandanglah kertas yang bertuliskan ijasah
Kertas yang engkau perjuangkan separu hidupmu
Dengan semangat yang membaramu
Coba engkau ingat…
Berapa buah pasang sepatu yang sobek dikakumu
Berapa pasang baju lusuh di tubuhmu
Setumpuk buku yang dilumat pena oleh tanganmu
Otakmu yang penuh akan cita-cita perubahan
Yang engkau isi pelajaran tentang dunia akhirat
Dan hati yang tergoreskan tinta kemuliahan
Akan hidup saudaramu yang lebih baik…
Dengarlah… dengarlah sahabatku
Akankah engkau simpang rapat Didalam pikiranmu yang berderuh
Berderuh ingin dibebaskan
Dan menyirami Negara ini dengan kecerdasmu yang engkau tempa
selama ini
Tanggalkan baju honormu…
Yang memberikan sepeser uang
Dan kenakan ilmu yang kau dapat selama ini
ajarkan cara bertahan hidup di rimbah yang penuh pohon baja
mana kaum intelektual yang dulu itu…
yang berteriak di jalan akan perubahan
apakah engkau orang-orang intelektual
berotak dengkul itu…
bangunlah saudaraku
bangunlah dari pembodohan
pembodohan yang mengatas namakan perubahan
yang memerah otakmu yang penuh impian akan perubahan
jangan takut saudaraku
jangan takut…
pasang semangat yang membara
dalam jiwa yang berdebuh itu…
dengarlah saudaraku…dengarlah
mereka semakin merintih,
mereka membutuhkanmu
merindukan semangatmu yang dulu
Bulukumba, 23 Agustus
2013