Kini ia tinggal mengicau
Cakarnya tumpul
Bulu-bulunya rontok
Paruhnya retak-retak
Matanya tak setajam dulu
Terban pun tak sanggup
Kini ia seonggok daging dalam sangkar
Namanya pun tak setangguh dulu
Badik kehilangan pamornya
Tinggal hiasan untuk dopertontongkan
Jiwa to barani kini tak sadarkan diri
Tertidur pulas menungguh suapan nasi
Mabuk dalam buaiyan zaman
Terbelenggu indahnya demokrasi
Lupa tangisan bocah-bocah diseberang jalan
Kemarin sore ia dipertontongkan
Meliak liuk dalam etalase sangkar kehidupan
Menunggu suapan daging
Dari periuk tetangga seberang
Garudaku kini jinak
Menutup mata tangisan malam
Di timur matahari terbit tersipu malu
Sinarnya pun tak hangat lagi
Di barat matahari tenggelam
Mewariskan kedinginan malam
Dari selimut compang camping
Garudaku kini jinak…!
Tersenyum malu dinegara seberang.
Katangka, 22 agustus
2013