Archive for 2013

SEMINAR NASIONAL, TEORI SOSIAL SASTRA " ANTARA SKANDAL REALITAS DAN RELASITAS" KARYA AHYAR ANWAR


.

Sumber : Profesi UNM
Terdengar ganjjal, itulah yang ada dalam otak saya disaat pertama kali mengikuti Seminar Nasional kali ini, biasanya seminar yang saya ikuti adalah seminar yang bertemakan kesehatan, jadi setiap kata dan kalimat yang diperbincangkan cukup saya mengerti dan pahami karena di ajarkan di bangku kuliah saya.

Seminar Nasional teori sosial sastra yang diadakan di Gedung Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM) di lantai lima, pada 15 Desember tang merupakan rangkaian dari Acara Mengenag 110 meninggalnya Dr Ahyar Anwar yang diadakan oleh Komunitas Rumah Cinta yang bertema “Antara Skandal Realitas dan Relasitas”  karya Dr. Ahyar Anwar ini menghadirkan empat pembicara diantaranya Prof. Aprinus Salam dosen Sekolah Pasca Sarjana, Kepala Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Ery Iswani, Dosen Universitas Negeri Makassar (UNM), Aslan Abidin, dan Irfan Palippui berlangsung dengan lancar,Acara yang dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan Drs. H Abdulllah Jabbar, M.Pd yang dihadiri dari berbagai Dosen Pasca Sarjana dan Mahasiswa yang ada di Kota Makassar ini membahas tentang Buku yang ditulis oleh Almarhum Dr. Ahyar Anwar “ Antara Skandal Realitas dan Relasitas “, selain itu juga mengenai permasalahan-permasalahan yang saat ini terjadi di kalangan Mahasiswa di Makassar. Dimana saat ini Mahasiswa cenderung Anarkis dalam setiap menyalurkan aspirasinya di jalan.

Prof. Aprinus  Salam dalam akhir pembahasanya menjelaskan Sosiologi sastra lebih sempit lingkunganya dibandingkan dengan teori sosial sastra, meskipun dalam dalam buku Dr Ahyar Anwar tidak mengungkapkan dengan lebih rinci perbedaan dan kemudian bagaimana hubungan keduanya, pada bagian awal dalam Buku Teori Sosial Sastra yang ditulis Dr Ahyar Anwar “Teori sosial sastra memiliki cakupan historis yang jauh lebih luas dibandingkan dengan teori sosiologi sastra”, Keterangan Dr Ahyar Anwar Ini menurut Prof. Aprinus Salam menjelaskan satu aspek perbedaan dari dua ilmu itu, yang pertama karena bersumber dan berkembang seiring dengan ilmu filsafat maka dapat dipastikan lebih tua secara historis, sementara sosiologi sastra merupakan ilmu yang masih sangat muda. Dan diakhir makalahnya Prof. Aprinus Salam menyarankan kepada murid-murid Dr Ahyar Anwar perlu mengeksplorasi lebih jauh perbedaan tersebut, mencermati dan mendudukkan keduanya dalam posisi yang pas.

Sedangkan Dr Ery Iswari dalam makalahnya Relasitas Komplementer dan resiprokar dalam budaya Makassar : Rerfleksi realitas berbasis Folktale (Cerita Rakyat). Mempresentasikan karya sastra dengan mengambil sunjek pada Laki-laki dan Perempuan dalam budaya Makassar. Dia juga mengutip salah satu penggalan kalimat dalam karya Dr Ahyar Anwar dalam Buku Kisah tak Berwajah (2009) :

" Aku hanya suka dengan kisah-kisah yang kau kirimkan pada angin di setiap malam yang menyusuri pantai, lalu menari di antara ombak,gelombang dan memecah samudera, dan singgah dari  antara pelabuhan demi pelabuhan. Tapi, setiap ombak menulis kisah pada pasir pantai, akan datang ombak lain untuk segera menghapusnya, agar ada kesempatan untuk kisah lain dituliskan ”.


Sementara Irfan Palippui, dalam pembahasanya cukup membingunkan bagi saya pribadi, tapi yang berhasil saya tangkap dalam sesih tanyajawab, dimana dari salam satu pertanyaan peserta mengenai fenomena Mahasiswa pada saat ini, dimana aksi anarkis pada saat menyalurkan aspirasinya dijalan cenderung anarkis, Irfan Palippui menganggap bahwa dalam menjalankan aksi menyalurkan aspirasi dijalan  mereka seperti Histeria, mereka menyakiti dirinya sendiri, mengalami keterasingan sementara dalam hidupnya, dan menemukan kenikmatan di dalamnya. Dan diakhir jawabanya dia melemparkan sebuah tanda tanya bagi saya yakni “Skandal akan tetap hidup dan dapat mempengaruhi hidup”. Terakhir Aslan Abidin, saya tidak begitu memperhatikan, karena kebetulan saya keluar ruangan untuk menghisap sebatang rokok.

Foto dalam Acara Seminar Nasional " Teori Sosial Sastra : Antara Skandal Realitas dan Relasitas" Karya Ahyar Anwar.

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

Sumber : Profesi UNM

MALAM 110 HARI MENGENANG AHYAR ANWAR


.

Kadang-kadang batas yang jelas antara kehidupan dan kematian itu kabur, munkin orang telah meninggal dan pergi, tapi dia  tetap ada, berbicara, bahkan berjalan  dalam ingatan orang-orang yang mencintainya. Munkin itulah tampaknya yang terjadi pada Dr Ahyar Anwar.

Makassar, 15 Desember, bertempat Gedung Al Amin, Universitas Muhammadiah Makassar (UNISMU), Komunitas Rumah Cinta mengadakan Peringatan Hari 110 wafatnya Ahyar Anwar, kegiatan ini dihadiri berbagai pelakon kesenian yang hidup dan berjalan di sekitar Ahyar Anwar semasa hidupnya, dan mempersembahkan karya-karya sebagai wujud kecintaannya. Seperti  Abidin Wakur, Sanggar Seni dan Budaya Al Farabi yang berkelaborasi dengan putra Almarhum Ahyar Anwar, Putra Sulung Almarhun, Seniman Gowa Daeng Serang, Sanggar Seni Esa, Talas, Bestra, Sekolah Sastra Bulukumba, dan masih banyak lainya. 

Kegiatan yang disaksikan oleh ribuan orang ini sungguh memukau, saat masuk kegedung, Panitia menempatkan Histori dan kenangan Ahyar Anwar di Lorong-lorong gedung mulai dari buku karya-karyanya seperti Kisah tak berwajah, Menidurkan Cinta, Geneologi Feminis, Aforisma Cinta, Infinitum, dan masih banyak lainya, selain itu  dipajang Foto dan kegiatan Almarhum semasa hidupnya yang dimuat di berbagai koran.

Ahyar Anwar yang dijuluki Kahlil Gibran dari timur ini telah melahirkan jutaan untaian kata yang menidurkan cinta dipangkuan sang rindu, Sosok kharismatik ini menyelesaikan studinya di Universitas Gadjah Mada(UGM), Magister Sosiologi di Universitas Hasanuddin (UNHAS), dan memperoleh Doktor di bidang sastra di Universitas Gadja Mada (UGM), beliau juga menjadi Dosen di beberapa Perguruan Tinggi, diantaranya Universitas Negeri Makassar (UNM), Universitas Muhammadiyah Makassar (UNISMU), dan Universitas  Islam  Negeri Makassar (UIN). Aktif dalam berbagai seminar Nasional dan Internasional tentang sastra dan sosial, menilis artikel  pada jurnal Nasional dan berbagai media cetak.

Dibawah ini terdapat berbagai penggalan kata yang dikutip dari buku Dr Ahyar Anwar dalam Aforisma Cinta (2012).

“ Hakikat cahaya bukan bersarang pada matahari, Cahaya menyangkar pada lipatan hati, Hati yang indah selalu menyimpan  cinta jadi cahaya”

“ Waktu bukanlah soal malam atau siang, matahari bukan soal timur atau barat, musim bukan soal kemarau atau hujan, kesepian bukan soal sunyi atau hilang!. Semua itu soal apakah aku bersamamu atau tidak!”

“ Aku tidak sedang mencari cinta ketika aku menemukanmu, aku menemukanmu justru ketika aku sedang membuang semua kenanganku yang tak menyimpan cinta, Aku menemukan senyummu ketika aku sedang menyisihkan semua impianku tentang senyuman.”

“ Aku sedang berkatan dengan suara ketakutan yang terbunuh dalam selimut mimpinya yang tersaun sunyi jika malam ini berakhir, yakinlah jika gelapnya yang sunyi akan terus memelukku untukmu, sampai kau menemukanku dalam mimpimu yang paling rindu.”

Kegiatan ini selesai sekitar pukul 11:30 Am. Ditutup dengan peresmian Kominitas Rumah Cinta, sebagai wadah bagi mereka yang ingin membahas karya-karya Kahlil Gibran dari Timur ini dan mereka yang ingin meneruskan pemikiran beliau. Salam Budaya.

Foto-foto Dr Ahyar Anwar :

Salah satu persembahan Puisi dalam malam 110 hari  mengenang Ahyar Anwar

Daeng Serang, Seniman Tradisi dari Gowa, yang ikut mengisi malam 110 hari  mengenang Ahyar Anwar

Risma Iris, Istri Ahyar Anwar dalam acara malam 110 hari  mengenang Ahyar Anwar

Malam 110 hari  mengenang Ahyar Anwar




PAGELARAN SENI DAN SASTRA BULUKUMBA; AKHIR TAHUN DI DALAM PUISI


.

Foto : Sekolah Sastra Bulukumba
Fenomena sosial bangsa yang kian kompleks sepertinya kian rumit dan sulit terurai. Media seakan tiada henti mengabarkan hal-hal yang ingkar moralitas dan semakin jauh dari hal yang berkenaan dengan keluhuran budi bahkan nilai agama. Adalah korupsi, moralitas pemimpin, kerusakan alam bahkan hingga pada isu-isu globalisasi yang menyeret generasi untuk menjauh dari akar kebudayaan seolah tak terbendung.

Sastra sebagai jalan kesadaran alternatif selain agama tentunya sangat diharapkan menjadi benteng alternatif lain dari benteng moralitas. Sastra sebagai sebuah harapan, dengan keindahan dan kelembutannya menghadirkan setitik cahaya sebagai awal dari kebangkitan bangsa atas degradasi moral yang akut. Titik-titik sastra dari hati setiap generasi muda diharapkan tak hanya menghadirkan romantika kata yang sudah terlalu sering kita dengar dari mulut muda ataupun  untuk menggoda sang kekasih, akan tetapi sastra sebagai senjata dalam melakukan revolusi pemikiran, budaya dan cipta.

Pesan sastra adalah pesan perjuangan. Seluruh lapisan masyarakat adalah titik focus dari bidik kata dengan katajaman yang abstrak penuh misteri. Setiap bagian dari sastra, apapun itu, adalah tumpuan bagi kaki-kaki kita untuk me-rekonstruksi peradaban yang bergeser oleh dorongan kekar tangan-tangan rakus.

Pertanyaan sederhana: “haruskan kita tercabut dan hilang bersama dengan kekalahan?”. Pertanyaan ini tentunya menarik untuk dipersembahkan ke seluruh lapisan masyarakat. Olehnyalah, dipandang penting untuk  melaksanakan kegiatan pagelaran sastra ini untuk memandangdengan tajam  semua soal dari mata puisi untuk mendorong katarsisme atau pun kontemplasi, untuk mecapai kebeningan mata jiwa di dalam menyikapi semua persoalan.




Festival Sungai Bijawang


.

Foto : Sanggar Seni dan Budaya Al Farabi Bulukumba
Dewasa ini, perhatian generasi muda terhadap Budaya sangatlah minim, Padahal di Negara lain, perhatian khusus terhadap Budaya sangatlah besar, mereka sangat giat dan gencar mempromosikan Budaya mereka dan biasanya menarik banyak wisatawan lokal maupun mancanegar, selain itu nilai dan makna akan suatu Budaya masing-masing daerah sangatlah baik untuk membentuk jati diri kita sendiri, orang lain, atau bahkan Bangsa dan Negara kita.

Bisa dihitung jari, Orang-orang yang giat untuk melestarikan dan mempertahankan warisan Para Leluhur kita ini. Di Bulukumba misalnya, terdapat banyak warisan Budaya yang perlu perhatian khusus generasi muda agar tidak tertelan oleh buaian zaman.

Pada tanggal 7 Desember 2013, Sanggar Seni dan Budaya Al Frabi Bulukumba dan Bangkeng Comunity Bulukumba menggelar Festival Sungai Bijawang, kegiatan yang menampilkan banyak Budaya yang saat ini mungkin telah terlupakan, seperti permainan rakyat Ma’Longga, Ma’ Ngasing, Ma’ Cukke, Tarik tambang dalam air, Pa Kacapi, Pa Gambusu, Pa Menca Baruga. Selain itu Sanggar seni dan Budaya Al Frabi juga Mempersembahkan Tari Tradisional Akkarane Biring Salo, Marillau Pammase Dewata, dan Ritual Mappano Ri wae, dan Ritual Tarian Eppa Sulapa yang sangat penuh dengan Mistik ditambah dengan alunan Ganderang Bulo dan Pui’ Pui’ yang melengking dalam desiran Air terjun Sungai Bijawang.

Salah satu pertunjukan yang sangat mendebar-debarkan adalah Ritual Tarian  Eppa Sulapa, Gerakan yang Lues dan gemulai seolah-olah menyatu dengan alam Sungai Bijawang ditambah dengan Aksi mistik membakar tangan dengan api membuat orang-orang yang menyaksikanya terpesona dan takjub akanya.

Mungkin nama-nama permainan dan ritual di atas saat ini agak terdengar asing ditelinga generasi muda saat ini. Ini merupakan bukti kurangnya minat para generasi muda untuk melestarikan Serpihan budaya dari sekian banyak yang terdapat di Kabupaten Bulukumba.

Kegiatan yang banyak menarik perhatian Warga sekitar desa dan para pengendara sepada motor ini merupakan kegiatan yang pertama kalinya diadakan di Pinggiran Sungai Bijawang. Mungkin kedepannya Pemerintah Kabupaten Bulukumba lebih memberikan perhatian kepada orang-orang yang giat dan tekun melestarikan warisan Budaya ini, agar kelak tidak lagi di akui oleh Negara Tetangga kita.


Latihan Sanggar Seni dan Budaya Al Farabi Bulukumba persiapan Festival Sungai Bijawang.
Foto : Sanggar Seni dan Budaya Al Farabi Bulukumba

Latihan Sanggar Seni dan Budaya Al Farabi Bulukumba persiapan Festival Sungai Bijawang.
Foto : Sanggar Seni dan Budaya Al Farabi Bulukumba

Latihan Sanggar Seni dan Budaya Al Farabi Bulukumba persiapan Festival Sungai Bijawang.
Foto : Sanggar Seni dan Budaya Al Farabi Bulukumba

NASIB TUBUH RENTAH PAHLAWAN DEVI-SA


.

Pak Wahab, 60 Tahun meninggalkan
keluarganya di Perantauan.
Hampir tiap tahunya penduduk Bulukumba merantau mengais rejeki di Negeri orang, dengan maksud untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya, mereka rela meninggalkan kampung tanah kelahira, anak-anak, istri, dan sanak keluarganya hanya untuk mencari sesuap nasi. Banyak diantaranya kembali membawa uang yang cukup banyak dan membangun rumah, membeli tanah, dan berdagang, tapi banyak pula yang pulang dengan tangan kosong atau bahkan tidak kembali sama sekali. Apakah mereka meninggal dunia ataupun tinggal menetap karena tidak adanya biaya untuk kembali.

Pak Wahab yang saat ini tinggal di Riau, Bagan Siapiapi, meninggalkan istri yang saat itu mengandung anak pertamanya merantau untuk memperbaiki prekonomian keluarganya, Pada tahun 1960-an Wahab merantau meninggalkan Bumi panrita lopi bersama dengan orang-orang sekampungnya. Hampir 50 tahun lamanya dia pergi dan tidak pernah kembali.

Melalui jejaring sosial Facebook, Pak Wahab akhirnya dipertemukan, melalui Komunitas Sastra Bugis Kuno, kebetulan saya bertemu dengan Pak Doel yang tinggal di Riau menginformasikan bahwa ada tetangganya yang sudah tua, tinggal sendiri, mulai sakit-sakitan, dan ditinggalkan oleh anak-anaknya untuk dicarikan keluarganya yang ada di Bulukumba, 

Pak Wahab yang mengenal tanah kelahiranya Tanah Beru dengan Tanah Bale’ menanyakan anak pertamanya yang saat itu masih di rahim ibunya sewaktu ditinggalkan. Saat itu saya mengbagikan Foto dan beberapa nama untuk dibagikan di Jejaring Sosial Facebook. Akan tetapi dalam waktu 3 hari tidak ada perkembangan.

Sabtu, 6 Desember 2013, saya berangkat ke tanah beru untuk mencari keluarga Pak Wahab, menurut informasi yang diberikan Pak Doel tetangga Pak Wahab kalau tempat tinggalnya ada di sekitar Pasar Tanah Beru, Dengan Nama Istri Napisah dan Kakak Labo dan Sangkala. Tiba di Tanah Beru, saya menanyakan tentang Pak Wahab disekitar Pasar tak banyak yang tau mengenai Pak Wahab, Kebetulan dipinggir jalan ada Orang Tua yang sedang bercengkrama dengan keluarganya, setelah ditanyakan ternyata mereka juga agak bingung setelah menjelaskan beberapa saat mereka masih bingung, tiba-tiba Seseorang yang mengaku keluarga jauhnya sedikit tau tentang Pak Wahab, Perempuan yang kira-kira berumur 60 tahun ini ingat kalu ada dulu tahun 60-an seseorang dengan nama Waha’ meninggalkan istrinya merantau dengan istri yang sedang mengandung anak pertama. Dengan informasi yang diberiakan kalau Keluarga Pak Wahab kini tinggal di sekitar pelelangan ikan Tanah beru.

Setiba di tempat Pelelangan ikan, saya  menanyakan keluarga Pak Wahab, yakni Labo’ dan Sangkala. Mereka  menunjukkan rumahnya. Dengan berbekal informasi tersebut saya kemudian ke Rumah yang ditinjjukan.

Rumah Panggung, dengan Lasuji’ di depan Rumah, bungan-bunga tumbuh dengan subur dan tertata rapi, Rumah panggung yang tidak terlalu tinggi itu terdengar musik dangdut khas pinggir laut. Sosok perempuan Rentah duduk di Lego’-lego’ Rumah panggung itu, saya kemudian menanyakan tentang Pak Wahab, Perempuan Rentah ini terlihat kebingunan, atau munkin menganggap saya sebagai tukang tipu yang saat ini ramai dibicarakan di Kampung-Kampung. Dia kemudian berlari kebelakang Rumah, beberapa saat kemudian datang Perempuan yang umurnya sekitar 40 tahun, saya menanyakan tentang Pak Wahab, dia terlihat bingung, dan menunjjukan sebuah Rumah. Tapi tiba-tiba ada perasaan menyakinkan kalau Rumah di depan mata saya itu adalah keluarga Pak Wahab. Saya kemudian menelpon Pak Doel tetangga Pak Wahab, sekitar 20 menit, Pak Doel menelpon kembali, tapi bukan Pak Doel yang berbicara, tapi Pak Wahab. Perempuan yang umurnya sekitar 40 tahun itu kemudian bicara dengan Pak Wahab, mereka pun berbicara lama, Perempuan itu tidak mengenal siapa Pak Wahab. Kemudian dia melihat saya dengan pandangan agak takut, munkin saya dianggap penipu, tapi saya kemudian menyebut nama Labo’ dan Sangkala, tiba-tiba dia mengaku kalau dia anak pertama Labo’ kakak Pak Wahab, dia pun berteriak dan memanggil saudara serta keluarganya, suasana menjadi ramai. Saya terherang-herang, ternyata mereka tidak pernah melihat Pak Wahab, bagaimana wajahnya, rambutnya. Setelah saya perlihatkan Foto Pak Wahab yang dikirimkan oleh Pak Doel dari Riau, mereka merasa sangat kenal karena sangat mirip dengan kedua kakanya yang telah meninggal dunia.

Pak Wahab yang meninggalkan Bulukumba sekitar 50 tahun itu sudah lamah sekali, menurut pengakuan keluarga. Pak Wahab sudah dianggap meninggal dunia, karena sudah puluhan tahun pergi dan tidak memberikan informasi baik itu sehelai surat. Labo, Sangkala kakak dari Pak Wahab ini beserta istrinya ternyata telah meninggal dunia. Dan anak pertamanaya yang saat ini berumur 40 tahun berada di Malaysia. Sedangkan yang ada di Tanah Beru hanya Anak-anak dari Istri Pak Wahab yang telah menikah dengan kakaknya (lecce’ angkulung), yakni Sangkala dan memiliki banyak anak yang telah menikah dan beranak cucu.

Menurut informasi yang saya dapat baru-baru ini dari Pak Doel Di Riau, Bagan Siapiapi,  Pak Wahap masih ada di Riau, di Bagan Siapiapi, alamatnya di Jalan Pahlawan, No 135, Kelurahan Bagan Timur, Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir, Kota Bagan Siapiapi. Dan kesehatanya sudah menurun. 
Semoga Pak Wahab dapat kembali ke Bumi Panrita Lopi dan mencium pipi anak cucunya. AMIN. 

SEJARAH YANG TERSEMBUNYI DI BULUKUMBA


.

Foto : Sekolah Sastra Bulukumba
Eksotis nan indah, menyimpan setitik sejarah kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Pada tanggal 17 Agustus 1945, Negara Indonesia mengproklamirkan kemerdekaannya dari penjajahan. Lebih dari tiga setengah abad, mulai dari pendudukan Hindia Belanda selama 350 tahun dan Jepan selama tiga setengah tahun. Tak terhitung jumlah pahlawan yang gugur dalam perjuangan mengusir para Penjajah dari tanah air Indonesia, Mulai dari Sabang sampai Merauke meneriakkan kata Merdeka!.

            Pada tahun 1989, di Pantai Mandala yang terletak di Desa Lembanna, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi-Selatan, Indonesia. Dari informasi Kepala Desa Lembanna. Soeharto yang pada saat itu sebagai komandan pembebasan Irian barat mengutus Dahlan Tahir untuk memerintahkan kepada penduduk di sekitar Pantai Mandala yang notabenenya sebagai pembuat Perahu yang ulung untuk membuat 40  Perahu Pinisi dalam kurung waktu 40 hari, dalam proses pembuatan perahu pinisi ini dikerjakan siang dan malam, pengerjaan ini melibatkan ratusan pengrajin Perahu yang pada saat itu dan dikepalai oleh H. Mustari. Perahu Pinisi yang akan dipakai untuk menambah kekuatan TNI di laut ini disebut dengan nama Armada Semut. Dalam perjalan membebaskan Irian Barat ini, Armada Semut bersenjata mini dan terbatas, dengan semangat juang dan tanpa lelah yang digenggam oleh para Pasukan TNI ini akhirnya berhasil dalam merebut Irian Barat dari pendudukan Belanda yang nantinya akan dijadikan Negara Boneka Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Ada yang menyebutkan bahwa perahu Pinisi yang terbuat dari kayu itu, menjadi sangat berguna pada penyerangan tersebut karena tidak bisa dilacak oleh Radar sekutu sehingga memudahkan untuk menembus Pantai.

            Saat ini, di Pantai Mandala masih nampak beberapa pengrajin Perahu Pinisi meski jumlahnya sedikit dari pada yang ada di Tanah Beru. Selain itu di sekitar Pantai terdapat rumah-rumah panggung para Nelayan yang kondisinya mulai lapuk termakan usia dan dihantam angin Laut Teluk Bone. Dan diantaranya terdapat sebuah bangunan Villa berlantai dua dan di sampingnya terdapat rumah pohon, menurut informasi yang diberikan penduduk sekitar adalah milik Bule’ (Warga Negara Asing).

            Selain sebagai tempat bersejarah yang berjasa mempersatukan Negara Indonesia, di sekitar Pantai Mandala terdapat Hutan yang lebat dan terdapat banyak Gua-gua yang dibawahnya terdapat sumber mata air yang payau. Selain itu di sebelah Selatan tepatnya di pesisir pantai, menurut penuturan Kepala Desa Lembanna, Amar Ma'ruf,  terdapat sumber air tawar yang besar yang muncul dari bawah laut yang penduduk sekitar menyebutnya "Passohara" (menyembur) yang pada saat laut pasang terlihat jelas. Dan terdapat Danau Bawah Tanah Passohara yang terletak 200 meter  sebelum Pantai mandala yang cukup besar dan luas. Disebelah Barat Pantai terdapat Taman Laut yang memiliki Biota laut beraneka ragam dan bahkan Banyak Ikan Hiu berenang di sekitar Pantai ini yang membuktikan bahwa lingkungan yang masih baik dan sumber makanan bagi ikian-ikan baik besar maupun kecil  terpenuhi dengan baik. Dan di atas Bukit sekitar Pantai terdapat Gua Purbakala Passea yang konon menurut cerita panduduk sekitar pada masa dahulu dimana di tanah Bumi Panrita Lopi peperangan masih menyeruak dan Penduduk sekitar Desa Lembanna yang pada saat itu bersembunyi di dalam Gua dalam waktu yang cukup lama dan di dalam Gua mereka menderita dan banyak diantaranya meninggal dunia.

            Pantai yang meyimpan Sejarah ini kondisinya cukup memperihatinkan, jalan menuju Pantai rusak parah, dan informasi tentang adanya pantai yang eksotis ini sangat minim. Seandainya pemerintah Kabupaten Bulukumba memberikan sedikit saja perhatian lebih tentang adanya Pantai Mandala ini di Desa Lembanna, Kecamatan Bonto Bahari, pasti akan dilirik oleh wisatawan  lokal dan Mancanegara, ini terbukti dengan adanya sebuah Villa yang berdiri megah milik Warga Negara Asing yang seolah-olah menjadi pemilik satu-satunya keindahan yang masih perawan ini.

Foto : Sekolah Sastra Bulukumba
Foto : Sekolah Sastra Bulukumba
Foto : Sekolah Sastra Bulukumba


           
           

PEMIKIR


.

Ini malam yang sekian kalinya, sekian kali terpikir dalam benak akan sebuah perubahan yang benar-benar dapat dibanggakan, mungkin sekian banyak orang-orang intelektual di sekitar kita, akan tetapi hanya segelintir saja yang berpikir dan berpikir akan perubahan.
Mungkin segelintir itu, satu diantaranya ada disekitar kita, namun perhatian akan pemberi wewenang tidak tahu, atau munkin buta akan kehadiranya, padahal suatu bangunan gedung pencakar langit itu juga terbuat dari miliaran butui-butir pasir, berton-ton semen, dan jutaan baja batangan, itu merupakan struktur utama dalam bangunan selain kaca, mejah, kursi, lemari dan pas bunga yang ada di gedung tersebut.
Seperti halnya disekitar kita, struktur utama dalam membentuk daerah bahkan suatu Negara itu memerlukan pemikir,dan pekerja, tidak ada bedanya tubuh manusia yang memiliki otak untuk menggerakkan anggota tubuh yang juga seperti pekerja. Dan apabila dalam struktur ini tidak mampu bekerja sama maka akan terjadi stroke yang melumpuhkan salah satu anggota-anggota tubuh ini.
Dewasa ini, di Negara kita terlahir puluhan bahkan jutaan kontraktor yang berpeluang besar membangun gedung-gedung pencakar langit, melebihi menara eifel di paris yang telah berumur puluhan tahun, atau menara kembar di Negara seberang yang memiliki jembatan penyebrangan ditengah-tengahnya untuk menghubungkan antara gedung satu dengan gedung yang ada disampingnya.
Kemarin muncul di media sosial anak yang makan singkong menjuarai Olimpiade, anak tukang becak juara dalam olah raga catur. Ini semua terlahir dari perut-perut yang yang beronta kelaparan, mengapa mesti anak-anak yang terlahir dari perut-perut yang terisi dengan spageti dan hanberger ini tidak mempu. Padahal mereka unggul dari berbagai hal, pendidikan yang tinggi, pasilitas yang hebat dan canggih-canggih.
Apa pemikir yang  asyik berpikir atau pekerja yang terlalu sibuk bekerja ? atau ada pemikir yang larut dalam khayalanya !
Saat ini bertaburan gambar-gambar pemikir yang tak bosan senyum dan tanggu menangtang cuaca, panas diwaktu siang, dingin diwaktu malam, dan bahkan tak gentar ditiup angin. Mereka adalah pemikir-pemikir yang akan luar biasa hebat disaat ini.
Munkin mereka kelak akan menjadi kontraktor yang membangun gedung-gedung pencakar langit yang isinya ada kursi, meja, lemari, dan pas bunga, ditengah-tengah sawah petani, membangun terminal container di perkampungan nelayan. Ini pasti, kerena mereka pemikir yang ulung. Beda dengan pemikir yang seolah-olah berpikir.

***

Vivi, saat ini berumur enam belas tahun telah menginjjakan kaki, disalah satu  SMA negeri didesanya, Sembilan tahun ia telah duduk dibangku kayu dari Sekolah dasar sampai SMP, memegang pulpen dan buku. memang Sembilan tahun ini bukan waktu yang lama, karena masih ada bangku kuliah, jikalau mampu melanjutkanya. mengapa, masuk saja dibangku SMA cukup memeras keringat orang tuanya yang seorang petani, Untuk masuk diharuskan membayar lima ratus ribuh rupiah untuk administrasi, dan enam puluh ribuhan untuk beli kain batik belum ongkos jahitnya seharga empat puluhan ribuh. Sebelumya, untuk seragam, orang tuanya membelikan sepasang baju putih abu-abu dan baju olah raga yang menyehatkan tubuh dan pikiran.
Setelah duduk didalam kelas, vivi diharuskan membeli buku yang harganya puluhan ribuh rupiah belum ongkos angkot yang seribuh rupiah sekali naik. Dan ini berputar dari selama tiga tahun, waktu yang cukup lama untuk memeras keringat orang tuanya yang seorang petani yang mengandalkan sepetak sawah.
Vivi yang terlahir sebagai anak kedua dari dua bersodara, yang bungsu masih duduk dibangku Sekolah dasar, sedangkan kakaknya, sedang melanjutkan kuliah di salah satu kampus swasta di daerahnya.
Vivi yang berangkat jam setengah tujuh pagi ini menempuh dengan naik angkot sekitar dua puluh menit ini dan belajar selama delapan jam, jadi pulang kerumah jam dua siang. Ini dilakoninya setiap hari senin sampai sabtu, enam hari dalam seminggu ini vivi yang bercita-cita menjadi sorang dokter, yah munkin cita-cita yang ketinggian, tapi namanya juga cita-cita, jadi presiden saja boleh.
Dari dua orang yang namanya orang tua ini memang sangat semangat menyekolahkan anak-anak untuk menjadi seorang pemikir. Tidak siang dan malam mereka terus berpikir meski mereka bukan pemikir yang duduk digedung-gedung pencakar langit yang dibangun oleh para pemikir-pemikir yang ada gambarnya dijalan-jalan empat tahun yang lalu, harus makan apa mereka besok, masih adakah recehan dibawah baju dalam lemari untuk ongkos anak-anaknya sekolah, dan masih mampukah mereka membeli pupuk agar tanaman padinya dapat subur dan hasilnya dijual dan uangnya untuk biaya sekolah anaknya. Ayahnya yang menyandang gelar sebagai petani ini saat usai musim tanam, dia juga bekerja membangun rumah-rumah dan gedung-gedung demi lembaran kertas yang nilainya enam puluhan ribu, tapi dia bukan kontraktor.

***

Saai ini ada pemikir yang memikirkan bahwa sekolah itu sebenarnya sesuatu hal yang tidak penting, di berpikir bahwa para pemikir-pemikir yang menghasilkan penemuan untuk kemajuan umat manusia saai itu tidak menginjjakan kaki dibangku sekolah, sebut saja ibnu nafis yang bernama lengkap ’Alauddin Abu Hassan Ali Ibnu Abi Al-Hazm Al-Qurasi ini, dikenal sebagai ahli di bidang peredaran darah paru-paru yang lahir di Damaskus pada tahun 1210 M ini tidak duduk dibangku sekolahan, orang yang lahir dari keluarga yang taat beribadah ini hanya berguru dari ulama-ulama dan jauh setelahnya penemuanya diklaim oleh ilmuan kedokteran asal Inggris bernama William Harwey (1578-1675 M). selain ibnu nafis ada juga penemu teori gravitasi yaitu Isac Newton, dia menemukan teori ini diluar ruangan bangku sekolah, hanya dengan duduk istirahat dibawah pohon appel, dan melihat bahwa buah yang ada ditangkai pohon appel ini jatuh kebawah dan setiap benda diatas pasti jatuh kepermukaan bumi kerena adanya gaya megnetis yang terkandung dalam perut bumi.
Selain ibnu nafis dan Isac Newton masih banyak pemikir-pemikir yang memeberikan kontribusi perkembangan umat manusia dengan penemuanya, dan banyak diantaranya tidak duduk dibangku sekolahan yang saat ini ditujukan untuk orang-orang yang makan keju, dan jauh dari orang-orang yang makan singkong.

***

Matahari mulai sembunyi diperaduan malam, Vivi belum pulang, sempat tadi pagi dia berpesan kalau hari ini dia mengikuti salah satu organisasi yang berwajah seni dan budaya.
Untuk anak yang masih menerawang dunia, ini merupakan langka awal mengenal muka daerahnya, karena ada pepata lama yang mengatakan “dengan pendidikan hidup lebih baik, dengan agama hidup lebih terarah, dan dengan seni hidup lebih indah.”
Memang, dia lebih giat mengikuti organisai disekolahnya, karena kakaknya pernah berpesan “ jangan malu untuk bergaul dengan orang-orang intelektual”. Hari demi hari Vivi menjalani aktifitas sekolahnya, didepanya masih ada dua tahun untuk memeras otak dan jikalau ada uang akan melanjutkan kuliahnya. Agar dapat menjadi pemikir yang betul-betul berpikir.

SENANDUNG RINDU


.

Diseberang jalan
Dekat sekolah
Nampak wajah merah meronah
Hati berdetak tak karuan
Kini dua jiwa menunggu dipersatukan
Ditemani lembutnya angin malam
Dalam peraduan malam tanpa duanya
Jalan gelap jadi saksi
Pohon-pohon dipinggir jalan mengiyakan
Sebuah buku jadi maharnya
Kau menjelma bagai bidadari
Turun dari surga untukku
Kini jiwa tersiksa
Bila mataku tak memandang matamu
Bertemu dengan dirimu
Hatiku semakin rindu
Dan tak mampu ku sembuyikan lagi
Perasaan ini semakin membara
Hujan kerinduan kepadamu
Menghapus luka yang dalam
Kini hatiku bagai rembulan
Rembulan yang rundu akan datangnya malam
Ku ingin lupakan harapan bersamamu
Namun cinta suci telah terukir
Terukir pilu dalam prasasti jiwaku
Kini dalam lembah kerinduan
Tinggal kulantunkan lagu sendu
Mengenang dirimu
Dirimu yang lelap tertidur
dalam dekapan dinding pembatas
dunia akhirat.

Untuk terkasi jauh disana

Katangka, 1 september 2013

NOSTALGIA BERSAMAMU


.

Terlanjur…
Terlanjur terjadi
Keegoisan jiwa yang membara kecemburuan
Membakar kata cinta dibibirku
Meneriakkan kata perpisahan
Didalam buku harianku
Namamu terlukis indah
Senyunmu ang manis
Tingkahmu yang manja
Candamu yang lucu
Tinggal tersimpang dalam jiwa yang larah
Saat kita jalan berdua
Rumput-rumput bersua melantunkan
Lagu kasmaran
Oh indanya
Kisah-kisah berdua
Nostalgia yang indah
Dalam dekapan malam
Kini kerinduanku kugantungkan pada rembulan
Berharap bintang-bintang menyampaikan
Rinduku ini
Rindu yang Kini terikat dalam bayangmu
Untuk terkasih

Katangka, 1 september 2013

MANALAH MUNKIN


.

Lantunan serangga…
Dinginya malam menusuk kalbu
Dipenghujum mata Nampak kegelapan malam
Bercampur rasa kegelisahan
Seharusnya aku sadari
Penyesalan yang terdalam
Kutenggelamkan dalam samudera air mata
Menunggu ombak menyampaikan
Kegelisahan kekarang-karang pantai
Lembaran-lembaran baru
Ingin kulukiskan nama baru
Saat malam menyimpulkan senyumanmu
Hatiku terjerat dalam sangkar
Kuharap kudapat melupakan dirimu
Menghapus cerita-cirita indah bersamamu
Jemarikku kaku
Memahatkan rasa sayang
memutuskan tali cinta engkau dan dia
kuharap engkau melupakan dirinya
hapuslah…hapus
hapuslah wahai sang angin
angin kerinduan
jiwa yang terdalam
dirimu dan diriku
kalu munkin lukisan wajahmu meneteskan air mata
kabut gunung menutup hatimu
kisimpang derita yang kualami
menyelami kehidupan
yang penuh kerinduan
manalah mungkin aku membohongi hatiku
mengbohongi rasaku
kini ragaku
mengelana diperaduan cinta
mencari…
dirimu dalam kaca…

Untuk terkasih

Katangka, 1 september 2013

NYAYIAN AKAR RUMPUT


.

Api rindu kini kini membara
Memadamkan kisah romeo dan Juliet
Menghempaskan rindu napoleon kepada istrinnya
Rindu…rindu
Kisah batara guru  dipertemukan we nyili timo
Di ale kawa
Api rindu kini membara
Membakar keheningan malam
Dari tarian akar rumput
Yang menari-nari
Menunggu tetesan embun pagi
Dan sirna diterpa cercaan matahari
Bagai lingkarang hidup
Ada siang ada malam
Ada pasang ada surut
Ada cinta ada duka
Ada hidup maka ada pula mati…

Untuk yang terlupakan

Katangka, 2 Agustus 2013

CINTA DAN KHAYALAN


.

Terpersik rindu dalam gemercik angin
Terhembas, terbayang, dalam dekapan waktu
Menunggu datangnya sang mentari
Menghangatkan jiwa dipelukanmu
Aku rindu…
Rindu tanpa batas
Dikelopak bunga adelwais gunung lompo battang
Yang tak pernah layu menunggu sentuhanmu
Rindu…
Aku rindu…
Rindu lebah akan manisnya nektar bunga
Melepaskan dahaga
Dari lubuk terdalam
Wewangian bunga-bunga diujung pelangi
Rindu…
Aku rindu…
Dalam mimpi aku khayalkan
Akan pertemuan adam dan hawa
Mejelajah dunia bawah sadar
Bagai danau fatamorgana
Diperut gurun sahara
Kering…Rindu
Belaian embun pagi
Menetes
Melahirkan danau abadai
Dikesendirian malam
Rindu…
Aku rindu…
Aku rindu dipertemukan
Bagai siang tak lelah menunggu datangnya malam…
Untuk sahat dalam khayalan

Bulukumba, 3 september 2013

REMBULAN TERSIPU MALU


.

Rembulan tersipu malu
Selimut gelap terbentang luas
Dua titik cahaya
Memandang, tersenyum malu
Membagikan kehangatan siang
Diantara dua titik cahaya
Dilangit dan dibumi
Tersenyum malu
Tiada kata

Tampak gurata waktu
Terpancar dari pipi merona
Menunggu dipertemukan penguasa malam.
Rembulan tersipu malu…

Nampak di mata dua titik cahaya
Sama indah
Dilangit dan dibumi
Dua ciptaan tuhan
Satu rupa, satu jiwa, satu hati.
Bagai rembulan dan bintang
Tak terpisahkan malam
Dalam dekapan waktu.
Rembulan tersipu malu…

Katangka, 22 Agustus 2013