Ini malam yang sekian kalinya, sekian kali terpikir dalam benak
akan sebuah perubahan yang benar-benar dapat dibanggakan, mungkin sekian banyak
orang-orang intelektual di sekitar kita, akan tetapi hanya segelintir saja yang
berpikir dan berpikir akan perubahan.
Mungkin segelintir itu, satu diantaranya ada disekitar kita, namun
perhatian akan pemberi wewenang tidak tahu, atau munkin buta akan kehadiranya,
padahal suatu bangunan gedung pencakar langit itu juga terbuat dari miliaran
butui-butir pasir, berton-ton semen, dan jutaan baja batangan, itu merupakan
struktur utama dalam bangunan selain kaca, mejah, kursi, lemari dan pas bunga
yang ada di gedung tersebut.
Seperti halnya disekitar kita, struktur utama dalam membentuk
daerah bahkan suatu Negara itu memerlukan pemikir,dan pekerja, tidak ada
bedanya tubuh manusia yang memiliki otak untuk menggerakkan anggota tubuh yang
juga seperti pekerja. Dan apabila dalam struktur ini tidak mampu bekerja sama
maka akan terjadi stroke yang melumpuhkan salah satu anggota-anggota tubuh ini.
Dewasa ini, di Negara kita terlahir puluhan bahkan jutaan
kontraktor yang berpeluang besar membangun gedung-gedung pencakar langit,
melebihi menara eifel di paris yang telah berumur puluhan tahun, atau menara
kembar di Negara seberang yang memiliki jembatan penyebrangan
ditengah-tengahnya untuk menghubungkan antara gedung satu dengan gedung yang
ada disampingnya.
Kemarin muncul di media sosial anak yang makan singkong menjuarai
Olimpiade, anak tukang becak juara dalam olah raga catur. Ini semua terlahir
dari perut-perut yang yang beronta kelaparan, mengapa mesti anak-anak yang
terlahir dari perut-perut yang terisi dengan spageti dan hanberger ini tidak
mempu. Padahal mereka unggul dari berbagai hal, pendidikan yang tinggi,
pasilitas yang hebat dan canggih-canggih.
Apa pemikir yang asyik berpikir atau pekerja yang terlalu
sibuk bekerja ? atau ada pemikir yang larut dalam khayalanya !
Saat ini bertaburan gambar-gambar pemikir yang tak bosan senyum
dan tanggu menangtang cuaca, panas diwaktu siang, dingin diwaktu malam, dan
bahkan tak gentar ditiup angin. Mereka adalah pemikir-pemikir yang akan luar
biasa hebat disaat ini.
Munkin mereka kelak akan menjadi kontraktor yang membangun
gedung-gedung pencakar langit yang isinya ada kursi, meja, lemari, dan pas
bunga, ditengah-tengah sawah petani, membangun terminal container di
perkampungan nelayan. Ini pasti, kerena mereka pemikir yang ulung. Beda dengan
pemikir yang seolah-olah berpikir.
***
Vivi, saat ini berumur enam belas tahun telah menginjjakan kaki,
disalah satu SMA negeri didesanya, Sembilan tahun ia telah duduk dibangku
kayu dari Sekolah dasar sampai SMP, memegang pulpen dan buku. memang Sembilan
tahun ini bukan waktu yang lama, karena masih ada bangku kuliah, jikalau mampu
melanjutkanya. mengapa, masuk saja dibangku SMA cukup memeras keringat orang
tuanya yang seorang petani, Untuk masuk diharuskan membayar lima ratus ribuh
rupiah untuk administrasi, dan enam puluh ribuhan untuk beli kain batik belum
ongkos jahitnya seharga empat puluhan ribuh. Sebelumya, untuk seragam, orang
tuanya membelikan sepasang baju putih abu-abu dan baju olah raga yang
menyehatkan tubuh dan pikiran.
Setelah duduk didalam kelas, vivi diharuskan membeli buku yang
harganya puluhan ribuh rupiah belum ongkos angkot yang seribuh rupiah sekali
naik. Dan ini berputar dari selama tiga tahun, waktu yang cukup lama untuk
memeras keringat orang tuanya yang seorang petani yang mengandalkan sepetak
sawah.
Vivi yang terlahir sebagai anak kedua dari dua bersodara, yang
bungsu masih duduk dibangku Sekolah dasar, sedangkan kakaknya, sedang
melanjutkan kuliah di salah satu kampus swasta di daerahnya.
Vivi yang berangkat jam setengah tujuh pagi ini menempuh dengan
naik angkot sekitar dua puluh menit ini dan belajar selama delapan jam, jadi pulang
kerumah jam dua siang. Ini dilakoninya setiap hari senin sampai sabtu, enam
hari dalam seminggu ini vivi yang bercita-cita menjadi sorang dokter, yah
munkin cita-cita yang ketinggian, tapi namanya juga cita-cita, jadi presiden
saja boleh.
Dari dua orang yang namanya orang tua ini memang sangat semangat
menyekolahkan anak-anak untuk menjadi seorang pemikir. Tidak siang dan malam
mereka terus berpikir meski mereka bukan pemikir yang duduk digedung-gedung
pencakar langit yang dibangun oleh para pemikir-pemikir yang ada gambarnya
dijalan-jalan empat tahun yang lalu, harus makan apa mereka besok, masih adakah
recehan dibawah baju dalam lemari untuk ongkos anak-anaknya sekolah, dan masih
mampukah mereka membeli pupuk agar tanaman padinya dapat subur dan hasilnya
dijual dan uangnya untuk biaya sekolah anaknya. Ayahnya yang menyandang gelar
sebagai petani ini saat usai musim tanam, dia juga bekerja membangun
rumah-rumah dan gedung-gedung demi lembaran kertas yang nilainya enam puluhan
ribu, tapi dia bukan kontraktor.
***
Saai ini ada pemikir yang memikirkan bahwa sekolah itu sebenarnya
sesuatu hal yang tidak penting, di berpikir bahwa para pemikir-pemikir yang
menghasilkan penemuan untuk kemajuan umat manusia saai itu tidak menginjjakan
kaki dibangku sekolah, sebut saja ibnu nafis yang bernama lengkap ’Alauddin Abu Hassan Ali Ibnu Abi Al-Hazm
Al-Qurasi ini, dikenal sebagai ahli di bidang peredaran darah paru-paru yang
lahir di Damaskus pada tahun 1210 M ini tidak duduk dibangku sekolahan, orang
yang lahir dari keluarga yang taat beribadah ini hanya berguru dari ulama-ulama
dan jauh setelahnya penemuanya diklaim oleh ilmuan kedokteran asal Inggris
bernama William Harwey (1578-1675 M). selain ibnu nafis ada juga penemu teori
gravitasi yaitu Isac Newton, dia menemukan teori ini diluar ruangan bangku
sekolah, hanya dengan duduk istirahat dibawah pohon appel, dan melihat bahwa
buah yang ada ditangkai pohon appel ini jatuh kebawah dan setiap benda diatas
pasti jatuh kepermukaan bumi kerena adanya gaya megnetis yang terkandung dalam
perut bumi.
Selain ibnu nafis dan Isac Newton masih banyak pemikir-pemikir
yang memeberikan kontribusi perkembangan umat manusia dengan penemuanya, dan
banyak diantaranya tidak duduk dibangku sekolahan yang saat ini ditujukan untuk
orang-orang yang makan keju, dan jauh dari orang-orang yang makan singkong.
***
Matahari mulai sembunyi diperaduan malam, Vivi belum pulang,
sempat tadi pagi dia berpesan kalau hari ini dia mengikuti salah satu
organisasi yang berwajah seni dan budaya.
Untuk anak yang masih menerawang dunia, ini merupakan langka awal
mengenal muka daerahnya, karena ada pepata lama yang mengatakan “dengan
pendidikan hidup lebih baik, dengan agama hidup lebih terarah, dan dengan seni
hidup lebih indah.”
Memang, dia lebih giat mengikuti organisai disekolahnya, karena
kakaknya pernah berpesan “ jangan malu untuk bergaul dengan orang-orang intelektual”. Hari demi hari Vivi menjalani aktifitas
sekolahnya, didepanya masih ada dua tahun untuk memeras otak dan jikalau ada
uang akan melanjutkan kuliahnya. Agar dapat menjadi pemikir yang betul-betul
berpikir.