Archive for September 2013

PEMIKIR


.

Ini malam yang sekian kalinya, sekian kali terpikir dalam benak akan sebuah perubahan yang benar-benar dapat dibanggakan, mungkin sekian banyak orang-orang intelektual di sekitar kita, akan tetapi hanya segelintir saja yang berpikir dan berpikir akan perubahan.
Mungkin segelintir itu, satu diantaranya ada disekitar kita, namun perhatian akan pemberi wewenang tidak tahu, atau munkin buta akan kehadiranya, padahal suatu bangunan gedung pencakar langit itu juga terbuat dari miliaran butui-butir pasir, berton-ton semen, dan jutaan baja batangan, itu merupakan struktur utama dalam bangunan selain kaca, mejah, kursi, lemari dan pas bunga yang ada di gedung tersebut.
Seperti halnya disekitar kita, struktur utama dalam membentuk daerah bahkan suatu Negara itu memerlukan pemikir,dan pekerja, tidak ada bedanya tubuh manusia yang memiliki otak untuk menggerakkan anggota tubuh yang juga seperti pekerja. Dan apabila dalam struktur ini tidak mampu bekerja sama maka akan terjadi stroke yang melumpuhkan salah satu anggota-anggota tubuh ini.
Dewasa ini, di Negara kita terlahir puluhan bahkan jutaan kontraktor yang berpeluang besar membangun gedung-gedung pencakar langit, melebihi menara eifel di paris yang telah berumur puluhan tahun, atau menara kembar di Negara seberang yang memiliki jembatan penyebrangan ditengah-tengahnya untuk menghubungkan antara gedung satu dengan gedung yang ada disampingnya.
Kemarin muncul di media sosial anak yang makan singkong menjuarai Olimpiade, anak tukang becak juara dalam olah raga catur. Ini semua terlahir dari perut-perut yang yang beronta kelaparan, mengapa mesti anak-anak yang terlahir dari perut-perut yang terisi dengan spageti dan hanberger ini tidak mempu. Padahal mereka unggul dari berbagai hal, pendidikan yang tinggi, pasilitas yang hebat dan canggih-canggih.
Apa pemikir yang  asyik berpikir atau pekerja yang terlalu sibuk bekerja ? atau ada pemikir yang larut dalam khayalanya !
Saat ini bertaburan gambar-gambar pemikir yang tak bosan senyum dan tanggu menangtang cuaca, panas diwaktu siang, dingin diwaktu malam, dan bahkan tak gentar ditiup angin. Mereka adalah pemikir-pemikir yang akan luar biasa hebat disaat ini.
Munkin mereka kelak akan menjadi kontraktor yang membangun gedung-gedung pencakar langit yang isinya ada kursi, meja, lemari, dan pas bunga, ditengah-tengah sawah petani, membangun terminal container di perkampungan nelayan. Ini pasti, kerena mereka pemikir yang ulung. Beda dengan pemikir yang seolah-olah berpikir.

***

Vivi, saat ini berumur enam belas tahun telah menginjjakan kaki, disalah satu  SMA negeri didesanya, Sembilan tahun ia telah duduk dibangku kayu dari Sekolah dasar sampai SMP, memegang pulpen dan buku. memang Sembilan tahun ini bukan waktu yang lama, karena masih ada bangku kuliah, jikalau mampu melanjutkanya. mengapa, masuk saja dibangku SMA cukup memeras keringat orang tuanya yang seorang petani, Untuk masuk diharuskan membayar lima ratus ribuh rupiah untuk administrasi, dan enam puluh ribuhan untuk beli kain batik belum ongkos jahitnya seharga empat puluhan ribuh. Sebelumya, untuk seragam, orang tuanya membelikan sepasang baju putih abu-abu dan baju olah raga yang menyehatkan tubuh dan pikiran.
Setelah duduk didalam kelas, vivi diharuskan membeli buku yang harganya puluhan ribuh rupiah belum ongkos angkot yang seribuh rupiah sekali naik. Dan ini berputar dari selama tiga tahun, waktu yang cukup lama untuk memeras keringat orang tuanya yang seorang petani yang mengandalkan sepetak sawah.
Vivi yang terlahir sebagai anak kedua dari dua bersodara, yang bungsu masih duduk dibangku Sekolah dasar, sedangkan kakaknya, sedang melanjutkan kuliah di salah satu kampus swasta di daerahnya.
Vivi yang berangkat jam setengah tujuh pagi ini menempuh dengan naik angkot sekitar dua puluh menit ini dan belajar selama delapan jam, jadi pulang kerumah jam dua siang. Ini dilakoninya setiap hari senin sampai sabtu, enam hari dalam seminggu ini vivi yang bercita-cita menjadi sorang dokter, yah munkin cita-cita yang ketinggian, tapi namanya juga cita-cita, jadi presiden saja boleh.
Dari dua orang yang namanya orang tua ini memang sangat semangat menyekolahkan anak-anak untuk menjadi seorang pemikir. Tidak siang dan malam mereka terus berpikir meski mereka bukan pemikir yang duduk digedung-gedung pencakar langit yang dibangun oleh para pemikir-pemikir yang ada gambarnya dijalan-jalan empat tahun yang lalu, harus makan apa mereka besok, masih adakah recehan dibawah baju dalam lemari untuk ongkos anak-anaknya sekolah, dan masih mampukah mereka membeli pupuk agar tanaman padinya dapat subur dan hasilnya dijual dan uangnya untuk biaya sekolah anaknya. Ayahnya yang menyandang gelar sebagai petani ini saat usai musim tanam, dia juga bekerja membangun rumah-rumah dan gedung-gedung demi lembaran kertas yang nilainya enam puluhan ribu, tapi dia bukan kontraktor.

***

Saai ini ada pemikir yang memikirkan bahwa sekolah itu sebenarnya sesuatu hal yang tidak penting, di berpikir bahwa para pemikir-pemikir yang menghasilkan penemuan untuk kemajuan umat manusia saai itu tidak menginjjakan kaki dibangku sekolah, sebut saja ibnu nafis yang bernama lengkap ’Alauddin Abu Hassan Ali Ibnu Abi Al-Hazm Al-Qurasi ini, dikenal sebagai ahli di bidang peredaran darah paru-paru yang lahir di Damaskus pada tahun 1210 M ini tidak duduk dibangku sekolahan, orang yang lahir dari keluarga yang taat beribadah ini hanya berguru dari ulama-ulama dan jauh setelahnya penemuanya diklaim oleh ilmuan kedokteran asal Inggris bernama William Harwey (1578-1675 M). selain ibnu nafis ada juga penemu teori gravitasi yaitu Isac Newton, dia menemukan teori ini diluar ruangan bangku sekolah, hanya dengan duduk istirahat dibawah pohon appel, dan melihat bahwa buah yang ada ditangkai pohon appel ini jatuh kebawah dan setiap benda diatas pasti jatuh kepermukaan bumi kerena adanya gaya megnetis yang terkandung dalam perut bumi.
Selain ibnu nafis dan Isac Newton masih banyak pemikir-pemikir yang memeberikan kontribusi perkembangan umat manusia dengan penemuanya, dan banyak diantaranya tidak duduk dibangku sekolahan yang saat ini ditujukan untuk orang-orang yang makan keju, dan jauh dari orang-orang yang makan singkong.

***

Matahari mulai sembunyi diperaduan malam, Vivi belum pulang, sempat tadi pagi dia berpesan kalau hari ini dia mengikuti salah satu organisasi yang berwajah seni dan budaya.
Untuk anak yang masih menerawang dunia, ini merupakan langka awal mengenal muka daerahnya, karena ada pepata lama yang mengatakan “dengan pendidikan hidup lebih baik, dengan agama hidup lebih terarah, dan dengan seni hidup lebih indah.”
Memang, dia lebih giat mengikuti organisai disekolahnya, karena kakaknya pernah berpesan “ jangan malu untuk bergaul dengan orang-orang intelektual”. Hari demi hari Vivi menjalani aktifitas sekolahnya, didepanya masih ada dua tahun untuk memeras otak dan jikalau ada uang akan melanjutkan kuliahnya. Agar dapat menjadi pemikir yang betul-betul berpikir.

SENANDUNG RINDU


.

Diseberang jalan
Dekat sekolah
Nampak wajah merah meronah
Hati berdetak tak karuan
Kini dua jiwa menunggu dipersatukan
Ditemani lembutnya angin malam
Dalam peraduan malam tanpa duanya
Jalan gelap jadi saksi
Pohon-pohon dipinggir jalan mengiyakan
Sebuah buku jadi maharnya
Kau menjelma bagai bidadari
Turun dari surga untukku
Kini jiwa tersiksa
Bila mataku tak memandang matamu
Bertemu dengan dirimu
Hatiku semakin rindu
Dan tak mampu ku sembuyikan lagi
Perasaan ini semakin membara
Hujan kerinduan kepadamu
Menghapus luka yang dalam
Kini hatiku bagai rembulan
Rembulan yang rundu akan datangnya malam
Ku ingin lupakan harapan bersamamu
Namun cinta suci telah terukir
Terukir pilu dalam prasasti jiwaku
Kini dalam lembah kerinduan
Tinggal kulantunkan lagu sendu
Mengenang dirimu
Dirimu yang lelap tertidur
dalam dekapan dinding pembatas
dunia akhirat.

Untuk terkasi jauh disana

Katangka, 1 september 2013

NOSTALGIA BERSAMAMU


.

Terlanjur…
Terlanjur terjadi
Keegoisan jiwa yang membara kecemburuan
Membakar kata cinta dibibirku
Meneriakkan kata perpisahan
Didalam buku harianku
Namamu terlukis indah
Senyunmu ang manis
Tingkahmu yang manja
Candamu yang lucu
Tinggal tersimpang dalam jiwa yang larah
Saat kita jalan berdua
Rumput-rumput bersua melantunkan
Lagu kasmaran
Oh indanya
Kisah-kisah berdua
Nostalgia yang indah
Dalam dekapan malam
Kini kerinduanku kugantungkan pada rembulan
Berharap bintang-bintang menyampaikan
Rinduku ini
Rindu yang Kini terikat dalam bayangmu
Untuk terkasih

Katangka, 1 september 2013

MANALAH MUNKIN


.

Lantunan serangga…
Dinginya malam menusuk kalbu
Dipenghujum mata Nampak kegelapan malam
Bercampur rasa kegelisahan
Seharusnya aku sadari
Penyesalan yang terdalam
Kutenggelamkan dalam samudera air mata
Menunggu ombak menyampaikan
Kegelisahan kekarang-karang pantai
Lembaran-lembaran baru
Ingin kulukiskan nama baru
Saat malam menyimpulkan senyumanmu
Hatiku terjerat dalam sangkar
Kuharap kudapat melupakan dirimu
Menghapus cerita-cirita indah bersamamu
Jemarikku kaku
Memahatkan rasa sayang
memutuskan tali cinta engkau dan dia
kuharap engkau melupakan dirinya
hapuslah…hapus
hapuslah wahai sang angin
angin kerinduan
jiwa yang terdalam
dirimu dan diriku
kalu munkin lukisan wajahmu meneteskan air mata
kabut gunung menutup hatimu
kisimpang derita yang kualami
menyelami kehidupan
yang penuh kerinduan
manalah mungkin aku membohongi hatiku
mengbohongi rasaku
kini ragaku
mengelana diperaduan cinta
mencari…
dirimu dalam kaca…

Untuk terkasih

Katangka, 1 september 2013

NYAYIAN AKAR RUMPUT


.

Api rindu kini kini membara
Memadamkan kisah romeo dan Juliet
Menghempaskan rindu napoleon kepada istrinnya
Rindu…rindu
Kisah batara guru  dipertemukan we nyili timo
Di ale kawa
Api rindu kini membara
Membakar keheningan malam
Dari tarian akar rumput
Yang menari-nari
Menunggu tetesan embun pagi
Dan sirna diterpa cercaan matahari
Bagai lingkarang hidup
Ada siang ada malam
Ada pasang ada surut
Ada cinta ada duka
Ada hidup maka ada pula mati…

Untuk yang terlupakan

Katangka, 2 Agustus 2013

CINTA DAN KHAYALAN


.

Terpersik rindu dalam gemercik angin
Terhembas, terbayang, dalam dekapan waktu
Menunggu datangnya sang mentari
Menghangatkan jiwa dipelukanmu
Aku rindu…
Rindu tanpa batas
Dikelopak bunga adelwais gunung lompo battang
Yang tak pernah layu menunggu sentuhanmu
Rindu…
Aku rindu…
Rindu lebah akan manisnya nektar bunga
Melepaskan dahaga
Dari lubuk terdalam
Wewangian bunga-bunga diujung pelangi
Rindu…
Aku rindu…
Dalam mimpi aku khayalkan
Akan pertemuan adam dan hawa
Mejelajah dunia bawah sadar
Bagai danau fatamorgana
Diperut gurun sahara
Kering…Rindu
Belaian embun pagi
Menetes
Melahirkan danau abadai
Dikesendirian malam
Rindu…
Aku rindu…
Aku rindu dipertemukan
Bagai siang tak lelah menunggu datangnya malam…
Untuk sahat dalam khayalan

Bulukumba, 3 september 2013

REMBULAN TERSIPU MALU


.

Rembulan tersipu malu
Selimut gelap terbentang luas
Dua titik cahaya
Memandang, tersenyum malu
Membagikan kehangatan siang
Diantara dua titik cahaya
Dilangit dan dibumi
Tersenyum malu
Tiada kata

Tampak gurata waktu
Terpancar dari pipi merona
Menunggu dipertemukan penguasa malam.
Rembulan tersipu malu…

Nampak di mata dua titik cahaya
Sama indah
Dilangit dan dibumi
Dua ciptaan tuhan
Satu rupa, satu jiwa, satu hati.
Bagai rembulan dan bintang
Tak terpisahkan malam
Dalam dekapan waktu.
Rembulan tersipu malu…

Katangka, 22 Agustus 2013

MENUJU


.

Bangunlah…
Bangunlah wahai sahabatku
Angkat wajahmu, pandanglah pintu surga
Yang menantikan engkau selama ini.

Basulah mukamu dengan wudhu…
Takbirkan perubahan…
Layangkanlah do’a akan kesungguhnmu
Menggongcangkan bumi seisinya

Rukuk lah sahabatku…
Rukuklah atas kebenaran
Dan tendanglah kesewenang-wenangan
Yang berenang di air mata ibu pertiwimu

Sujudlah lah sahabatku…
Sujudlah atas karunianya.
Atas karunianya yang menanamkan pohon kesejahteraan
Dipundak anak cucumu…

Ucapkanlah salam sahabatku…
Atas keberanian sahatmu yang lain
Yang meneteskan darah terakhirnya
Untuk samudera  susu yang menunggu diselami


Bulukumba, 30 Juli 2013

MALAIKAT TANPA SAYAP


.

Ahhh…
Malam ini semakin dingin…
Tubuhku berteriak kedinginan
Tanda malam sukses menunaikan kewajibanya

Malam ini aku belum melihat…
Melihat… akan kedatangan sosok sahabat.
Sahabat  malaikat yang membawakan pena
Pena yang membawa goresan perubahan
Dari kepalsuan yang aku dapatkan

Kali ini,  Bukan malaikat yang bersayap
Tapi…
malaikat yang bertanduk
Kejam, keji, dan seram…
Kekejamanya akan memotong, merobek perutnya yang buncit…
Kekejianya akan membakar, lalu menghisap otaknya yang penuh ambisi
Dan wajahnya yang  seram  akan menghantui tidurnya yang lelab, kekenyangan
Yah…h…h… indah sekali…

Jika…malaikat itu tuntas melaksanakan do’aku…
Akan kuberi sebatang rokok…
Kuhisap berdua…
Dan saling tukar rencana, cita-cita, dan harapan…
Rokok itu akan kujadikan tanda persahabatan untuk membakar gubuk dan menyulapnya….
Abra…kadabra…jadi gedung
yah…h…h… asyik sekali…
senang rasanya…

Aku yakin, ambisiku ini akan sukses…
Sukses sekali…
Setelah itu…aku akan melayangkan proposal ke tuhan…
Akan kubangun surga di tanah yang subur ini…
Dan berjalan melewati hari penuh dengan kebahagiaan
hari-hari yang indah sekedar ucapan itu akan sirnah.
teriakan yang meradang itu semakin hilang berlahang

ahh…h…h…
akankah aku berjalan menuju langit
padahal dilangit tidak ada apa-apa, tidak ditemukan apa-apa
kecuali kekosongan yang nihil.
Oh…h…h…sahabatku…
Entah kapan engkau datang…


Bulukumba, 30 Juli 2013

IBU...HUJANKAH ESOK...?


.

Oh…ibu
Aku bertanya kepada ayah…
Masihkah tetangga ku lihat hari esok
Oh ibu
Aku bertanya kepada paman
Masihkah adik kecil diseberang rumah masih minum susu
Oh ibu
Aku bertanya kepada nenek
Masihkah kita makan esok pagi
Kini…
Tubuhmu ibu dipenuhi panu-panu yang tersenyum
Menempel tanpa malu. Malu akan dirinya
Oh ibu
Susumu tak semanis dulu
Susumu kini hambar
Munkin karena panu yang menempel pada tubuhmu
Panu tanpa akar yang tak setanggu dulu


Katangka, 21 Agustus 2013

GARUDAKU KINI JINAK


.

Kini ia tinggal mengicau
Cakarnya tumpul
Bulu-bulunya rontok
Paruhnya retak-retak
Matanya tak setajam dulu
Terban pun tak sanggup

Kini ia seonggok daging dalam sangkar
Namanya pun tak setangguh dulu
Badik kehilangan pamornya
Tinggal hiasan untuk dopertontongkan
Jiwa to barani kini tak sadarkan diri
Tertidur pulas menungguh suapan nasi
Mabuk dalam buaiyan zaman
Terbelenggu indahnya demokrasi
Lupa tangisan bocah-bocah diseberang jalan

Kemarin sore ia dipertontongkan
Meliak liuk dalam etalase sangkar kehidupan
Menunggu suapan daging
Dari periuk tetangga seberang
Garudaku kini jinak
Menutup mata tangisan malam

Di timur matahari terbit tersipu malu
Sinarnya pun tak hangat lagi
Di barat matahari tenggelam
Mewariskan kedinginan malam
Dari selimut compang camping

Garudaku kini jinak…!
Tersenyum malu dinegara seberang.     

Katangka, 22 agustus 2013

DAUN JATUH


.

Bangunlah… bangunlah sahabatku
Sahabat senasibku,
Lihatlah… lihatlah sahabatku
Dunia ini bosan engkau hinggapi

Daun jatuh…
Jatu satu demi Satu, Meninggalkan cinta ibunya
Ia tidak bersedih sahabatku.
Ia tidak bersedih… kerena Ia sadar akan kodratnya.

Ia melambai-lambai, memejamkan stomatanya
Yang selama ini memberikanmu kehidupan
Kini… ia jatuh. Melayang, terombang-ambing
Dalam pelukan semilir angin

Perhatikan sahabatku. perhatikan…
Lambaianya ikhlas
Wajahnya berseri-seri

Hari-hari nan indah ia lalui
Menari bersama ribuan sodaranya
Bercanda tawa
Membagikan kebahagiaan dalam kehidupanmu

Ia berpesan…
Kelak… engkau senasib denganya
Akan menghilang… hilang.
Tanpa bekas, meninggalkan kesuburan
Untuk anak cucumu.


( Bulukumba, 30 juli 2013 )

APPOLENGE'NNA


.

Diatas papan peraduan malam sunyi
Berbiaskan makam-makam tua
Nama-nama kecil yang enggang terlukiskan
Dalam ingatan waktu
Terdengar tawa-tawa tomanurung ri boting langi
Mendengdangkan musik penghibur larah
Dari instrument darah to barani
Diperaduan dewata malebbie
Tertidurkan mantera-mantera bissu’
Dua api kecil
Melahirkan jiwa ketiga


Katangka, 27 agustus 2013

SENANDUNG HARU KAMPUNG HALAMAN


.

Kampungku kini tersenyum
kebun-kebun ringbung
sungai-sungai jernih mengalir
sawah-sawah berjejer
bertingkat-tingkat dari bukit dekat kebun pak lurah sampai bendungan
kini musim tanam tibah
langit  cerah, awan-awan berceloteh penuh canda tawa
embun-embun pagi menetes penuh haru’
dari kejauhan, Nampak pak lurah dan para pak tani berbondong-bondong
berjalan liuk liuk diatas pematang sawah
bergotong royong menanam padi di sawah
hari itu, giliran sawah pak lurah ditanami padi,
esok… sawah pak tani dekat jembatang, setelah itu sawah pak tani dekat bendungan.
Matahari kini meranjak tinggi.
Dari kejauham atas bukit,
Ibu lurah terlihat menenteng termus berisih kopi,
Anak pak lurah, tampak ayu menjungjung bakul nasi.
burung beterbangan bebas, sapi-sapi mengoek merdeka
kampungku asri, tentram dan damai
16 tahun yang lalu…kini
Tinggal mewariskan khayalan dipenghujum mata…

Katangka, 21 Agustus 2013



SISI PINGGIRAN


.

Dengarlah…
Dengarlah saudaraku
Dengarlah rintihan itu
Rintihan akan uluran tanganmu

Mereka tidak butuh uangmu
Tidak butuh tumpukan baju bekasmu
Tidak pulah sisa makanan di gudangmu
Mereka butuh ilmumu

Dengarlah saudaraku… Saudara perjuanganku
Bukalah lemari mu, pandanglah kertas yang bertuliskan ijasah
Kertas yang engkau perjuangkan separu hidupmu
Dengan semangat yang membaramu

Coba engkau ingat…
Berapa buah pasang sepatu yang sobek dikakumu
Berapa pasang baju lusuh di tubuhmu
Setumpuk buku yang dilumat pena oleh tanganmu

Otakmu yang penuh akan cita-cita perubahan
Yang engkau isi pelajaran tentang dunia akhirat
Dan hati yang tergoreskan tinta kemuliahan
Akan hidup saudaramu yang lebih baik…

Dengarlah… dengarlah sahabatku
Akankah engkau simpang rapat Didalam pikiranmu yang berderuh
Berderuh ingin dibebaskan
Dan menyirami Negara ini dengan kecerdasmu yang engkau tempa selama ini

Tanggalkan baju honormu…
Yang memberikan sepeser uang
Dan kenakan ilmu yang kau dapat selama ini
ajarkan cara bertahan hidup di rimbah yang penuh pohon baja

mana kaum intelektual yang dulu itu…
yang berteriak di jalan akan perubahan
apakah engkau orang-orang intelektual
berotak dengkul itu…

bangunlah saudaraku
bangunlah dari pembodohan
pembodohan yang mengatas namakan perubahan
yang memerah otakmu yang penuh impian akan perubahan

jangan takut saudaraku
jangan takut…
pasang semangat yang membara
dalam jiwa yang berdebuh itu…

dengarlah saudaraku…dengarlah
mereka semakin merintih,
mereka membutuhkanmu
merindukan semangatmu yang dulu

Bulukumba, 23 Agustus 2013







PEMIKIR


.

Lengkap sudah hidupnya
Hidup orang-orang pemikir
Pemikir-pemikir handal
Botak dalam pemikiranya

Pemikir dan pekerja
Bagai dua sisi mata koin
Ada yang berpikir
Ada yang berja

Gedung pengcakar langit
Tumbuh kembang ditangan para pekerja
Terlahir dari para pemikir
Tapi ada satu pemikir
Pemikir yang berpikir
Berpikir untuk dipikirkan

Karena empat tahun yang lalu
Dia lupa berpikir
Dan tahun ini ia akan jadi pemikir
Wajahnya yang berpikir
Kini terpangpang di jalan-jalan
Tangguh menangtang tamparan matahari
Setia memangdang angin

Hidup pemikir…hidup pemikir
Kami pemikir
Tugas kami hanya untuk berpikir dan berpikir.

Katangka, 1 september 2013